LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com—PLAN Indonesia menggelar kegiatan Diskusi Budaya Lokal untuk Penguatan Perlindungan Anak yang berlangsung di Desa Merdeka, Kecamatan Lebatukan, pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran budaya lokal, lembaga adat, serta peran perempuan dan anak dalam upaya perlindungan generasi di desa.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta perwakilan perempuan, orang tua dan warga desa. Diskusi ini dipandu oleh fasilitator kegiatan, Acan Raring.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Merdeka, Aloysius Laran, menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan dan para leluhur Lewotanah yang telah memungkinkan masyarakat berkumpul dalam kegiatan tersebut. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada PLAN Indonesia yang terus mendampingi masyarakat desa dalam memperkuat perlindungan perempuan dan anak.
Menurutnya, anak merupakan “mutiara kehidupan” yang harus dijaga bersama oleh keluarga, masyarakat, pemerintah desa, serta lembaga keagamaan.
“Kita semua memiliki tanggung jawab untuk melindungi anak sejak dari dalam kandungan hingga mereka bertumbuh dewasa. Perlindungan ini tidak hanya melalui aturan hukum, tetapi juga melalui nilai budaya dan peran masyarakat,” ujar Aloysius.
Ia juga berujar bahwa kegiatan ini merupakan lanjutan dari diskusi yang sebelumnya telah dilaksanakan pada 21 November 2025.
Dalam sesi diskusi, fasilitator Acan Garing mengangkat tema: “Literasi Meja Makan”, yakni kebiasaan orang tua membangun komunikasi dengan anak saat makan bersama. Tradisi ini dahulu menjadi ruang penting bagi orang tua untuk memberikan nasihat, cerita, serta nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak.
Peserta diskusi mengingat kembali kebiasaan para orang tua dan nenek moyang yang sering menyampaikan dongeng dan cerita leluhur sebagai bagian dari pendidikan karakter anak.
Selain itu, diskusi juga menyoroti kondisi perkembangan anak di Desa Merdeka saat ini, termasuk pentingnya memberikan ruang bagi anak untuk terlibat dalam kehidupan sosial masyarakat, seperti kegiatan keagamaan, kegiatan sosial desa, hingga partisipasi dalam kegiatan pemerintahan desa.
Dalam forum tersebut juga disampaikan bahwa masih terdapat kasus kekerasan terhadap anak yang perlu menjadi perhatian bersama. Hal ini diungkapkan oleh Maria Alvonsa Nogo perwakilan kaum perempuan yang menekankan pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam mencegah kekerasan terhadap anak.
Sementara itu, Bapak Paulus Laba menyampaikan bahwa kehidupan keluarga di masa lalu penuh dengan keterbatasan, namun nilai kebersamaan dan perhatian terhadap anak tetap dijaga. Ia berharap melalui program PLAN Indonesia, anak-anak di Desa Merdeka dapat tumbuh menjadi generasi yang lebih baik.
Diskusi juga menekankan pentingnya peran lembaga adat dalam mengedukasi anak-anak mengenai nilai budaya dan norma kehidupan. Lembaga adat diharapkan dapat terlibat langsung dalam proses pembinaan generasi muda.
Selain itu, peserta diskusi juga membahas berbagai praktik budaya lokal di Desa Merdeka yang masih dipertahankan, termasuk nilai-nilai adat seperti penggunaan simbol budaya seperti daun kroko dan atanona yang memiliki makna dalam kehidupan masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, peserta diskusi mendorong terciptanya ruang yang aman dan konstruktif bagi anak dan remaja untuk berkembang, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun melalui lembaga adat dan pemerintah desa.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kolaborasi antara pemerintah desa, lembaga adat, keluarga, serta lembaga pendamping seperti PLAN Indonesia dapat semakin memperkuat perlindungan terhadap perempuan dan anak, sekaligus menjaga nilai budaya lokal sebagai fondasi pembentukan generasi masa depan.**(BM)





















