Dari Ritapiret ke Lembata: 47 Frater Datang, “Rd. Petrus Sina Bernostalgia“

Foto: Bedoz Making
banner 120x600
banner 468x60

LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com—Hujan turun perlahan di langit Lewoleba, rintiknya menyapa tanah Lepan Batan dengan lembut—seolah menjadi tanda bahwa sebuah perjumpaan penuh makna sedang dimulai. Kota kecil itu menunggu, dan ketika waktu tiba, penantian itu pecah dalam suasana yang hidup, Selasa (07/04/2026), Pukul 16: 25 WITA.

Dentuman drum band dari SMPK Santo Pius X Lewoleba menggema di udara. Irama yang ritmis dan bersemangat itu memecah sunyi hujan, mengiringi langkah kedatangan 47 frater Tingkat IV dari Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Nada-nada yang ditabuh bukan sekadar musik penyambutan, tetapi menjadi simbol sukacita umat yang menyambut dengan hati terbuka.

banner 325x300

Di Paroki St. Maria Banneux Lewoleba Kabupaten Lembata umat telah bersiap. Dengan sekitar 7.800 jiwa, tersebar dalam 20 lingkungan dan 145 KBG, paroki ini menjadi rumah yang siap menerima. Mereka tidak hanya menanti di laman Gereja ada yang telah menunggu dilingkungan masing-masing dengan kehangatan, dengan sukacita yang tulus.

Prosesi penyambutan berlangsung khidmat namun hangat. Wakil Ketua DPP I, Kristina Unarajan, bersama Wakil Ketua DPP II, Tini Derosari, mengalungkan selendang kepada Rd. Petrus Sina dan salah satu perwakilan frater. Sebuah tanda sederhana namun sarat makna: penerimaan, persaudaraan, dan keterbukaan hati.

Ketua DPP Paroki, Fransiskus Limawai, kepada media ini mengatakan bahwa kehadiran para frater bukan sekadar kunjungan. Mereka datang untuk “live in”—hidup bersama umat, belajar dari kehidupan nyata, menyelami suka dan duka yang menjadi bagian dari perjalanan iman.

Dalam sambutannya, Rd. Blasius Masang Kleden, selaku Pastor Paroki St. Maria Banneux  Lewoleba mengingatkan bahwa paroki ini adalah paroki pertama di Dekenat Lembata. Sebuah tempat yang bukan hanya memiliki sejarah, tetapi juga iman yang terus bertumbuh di tengah umatnya.

Sementara itu, Rd. Petrus Sina, yang membawa rombongan 47 frater, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari proses pembelajaran pastoral. Setiap tahun, setelah Paskah, para frater diberi kesempatan untuk turun langsung ke tengah umat. Mereka belajar bukan dari teori, tetapi dari kehidupan ditengah umat—dari wajah-wajah sederhana yang menyimpan iman yang kuat.

Rd. Petrus Sina

Kesan pertama yang ia rasakan begitu mendalam. Antusiasme umat Paroki St. Maria Banneux Lewoleba, menurutnya, adalah cerminan ketulusan. Sebuah penerimaan yang lahir dari kerendahan hati dan cinta akan panggilan Gereja.

Kunjungan ini juga menjadi perjalanan kenangan baginya. Dua puluh enam tahun lalu tepatnya di tahun 2000, ia pernah datang ke Lembata, saat daerah ini baru berumur satu tahun. Kini, di tahun 2026 setelah ia kembali dan menyaksikan perubahan yang nyata—baik dari segi pembangunan maupun partisipasi umat yang semakin hidup. Dengan nada bercanda, ia mengingat kembali sebuah tempat bernama KUB, meski kini samar dalam ingatan.

Selama beberapa hari ke depan, para frater akan tersebar di lingkungan-lingkungan, tinggal bersama umat, mengunjungi sekolah, mengikuti kegiatan KBG, dan beberapa agenda selama melakukan live in di Paroki yang berada di tengah Kota Lewoleba itu, dan berbaur dalam kehidupan sehari-hari. Mereka datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk belajar melayani.

Dan ketika malam tiba di hari Jumat, akan ada pentas seni—sebuah ruang di mana sukacita iman dan budaya bertemu dalam kebersamaan.

Hujan yang turun di awal kedatangan itu kini terasa seperti berkat. Dentuman drum band yang mengiringi langkah mereka menjadi denyut awal perjalanan ini. Di tanah Lewoleba, di tengah umat yang sederhana dan tulus, para frater belajar satu hal penting: bahwa panggilan imamat tidak hanya hidup di altar, tetapi tumbuh dan berakar di tengah umat yang mereka layani.**(BM)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *