Daerah  

Pro dan Kontra Proyek Geothermal PLN di Atadei, Lembata: Warga Terbelah, Pemerintah Desa Dorong Edukasi

Kepala Desa Atakore, Yoakim Wato, Foto: BM
banner 120x600
banner 468x60

LEMBATA, SWARALOMBLEN.com— Rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (Geothermal) oleh PLN di wilayah Dapur Alam Atadei, khususnya di Desa Atakore, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) memunculkan dinamika yang terus terjadi di tengah masyarakat.

Kepala Desa Atakore, Yoakim Wato, kepada awak media, Kamis (09/04/2026) saat ia dan semua kepala desa se-kecamatan Atadei mengikuti proses sosialisasi proyek geothermal di desa Nubahaeraka, dirinya mengatakan bahwa pada awalnya tidak terdapat pro dan kontra dari masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu, terbentuk sebuah forum warga yang kemudian dikenal sebagai Forum Atakore, yang mulai mengkaji dampak positif dan negatif dari proyek geothermal tersebut.

banner 325x300

“Awalnya tidak ada pro dan kontra. Tapi kemudian ada forum yang dibentuk untuk melihat sisi positif dan negatifnya. Dari situ, ada warga yang menerima, ada juga yang menolak,” ujar Yoakim.

Sebagai bagian dari struktur pemerintahan, Yoakim menyatakan dirinya mendukung program tersebut. Ia menilai proyek geotermal merupakan bagian dari kebijakan nasional yang perlu didukung, karena baginya, tidak mungkin negara menyusahkan masyarakat.

“Saya sebagai kepala desa tentu mendukung, karena ini bagian dari implementasi Pusat,“ jelasnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk melihat data nasional terkait pengembangan energi panas bumi. Menurutnya, dari sekitar 20 proyek geotermal di Indonesia, ada 18 yang berhasil.

“Kalau kita bilang geothermal itu buruk lalu kita tolak, padahal di Indonesia ada sekitar 20 proyek, 18 berhasil dan hanya 2 yang gagal. Apakah kita mau ikut yang gagal?” kata Yoakim lagi.

Meski demikian, Yoakim menekankan pentingnya transparansi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Ia mendorong agar pemuda aktif mencari informasi langsung dari pihak PLN agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang utuh.

“Anak muda harus mencari tahu langsung ke PLN, supaya bisa menjelaskan ke masyarakat secara terbuka tentang dampak positif dan negatifnya,” ujarnya.

Di sisi lain, kekhawatiran warga juga muncul akibat beredarnya informasi yang belum terverifikasi. Salah satu isu yang mencuat adalah pernyataan yang disebut berasal dari seorang ahli, yang menyebutkan bahwa Kampung Atakore berpotensi “tenggelam” jika proyek tersebut berjalan.

Pernyataan tersebut memicu ketakutan di kalangan warga dan memperkuat kelompok yang menolak proyek. Namun hingga kini, belum ada penjelasan resmi yang memastikan kebenaran klaim tersebut.

Situasi ini menunjukkan perlunya komunikasi yang lebih intensif antara pemerintah, pihak pengembang, dan masyarakat. Transparansi informasi serta kajian ilmiah yang dapat dipahami publik menjadi kunci untuk meredam ketegangan dan memastikan keputusan yang diambil benar-benar mempertimbangkan kepentingan bersama.

Sementara itu, perwakilan kepala desa se-kecamatan Atadei dan tokoh masyarakat desa Nubahaeraka sudah menyepakati pembebasan lahan dan mendukung penuh pengeboran oleh pihak PLN.

Proyek Geothermal di kecamatan Atadei yang meliputi desa sekitarnya sendiri merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mengembangkan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Namun, seperti proyek strategis lainnya, penerimaan masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan implementasinya.**(BM)

banner 325x300

Writer: BMEditor: Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *