Sopir Ekspedisi Lembata Menjerit: Ciprianus Minta Pemda dan ASDP Tanggungjawab 

banner 120x600
banner 468x60

LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com—Nasib para sopir ekspedisi rute Lewoleba –Kupang kian memprihatinkan. Sudah lebih dari lima bulan, sejak November lalu, aktivitas mereka lumpuh total akibat persoalan dermaga pelabuhan feri yang belum kunjung ditangani secara serius oleh pemerintah daerah.

Aliansi ekspedisi Lembata yang dipimpin Ketua Mingus dan Wakil Ismail menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap lambannya proses pengerjaan Pelabuhan Feri Waijarang.

banner 325x300

Para sopir yang hanya menggantungkan hidup dari jasa angkutan logistik kini terpaksa menganggur tanpa kepastian.

“Sudah lima bulan kami tidak beroperasi. Kami mengalami kerugian besar,“ ujar Nesta Salah satu perwakilan Aliansi Sopir ekspedisi yang ditemui oleh media ini, Selasa (24/03/2026).

Kondisi ini diperparah dengan melonjaknya harga sembako di wilayah Lembata yang semakin menekan ekonomi para sopir dan keluarga mereka. Tanpa pemasukan, banyak dari mereka kini kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Aliansi juga menyoroti minimnya langkah konkret dari pemerintah daerah. Di tengah krisis yang dihadapi para sopir, pemkab Lembata justru dinilai lebih sibuk dengan aktivitas seremonial dibandingkan menyelesaikan persoalan mendesak yang berdampak langsung pada masyarakat.

“Kami tidak butuh omon-omon sajah. Kami butuh solusi nyata,” tegas Ismail yang sudah geram dengan keadaannya saat ini.

Hingga saat ini, belum ada alternatif lain terhadap  nasib mereka, para sopir ini hanya meminta agar mereka dapat kembali melanjutkan aktivitas sambil menunggu perbaikan yang dilakukan oleh pihak ASDP yang dijanjikan akan segera membangun Pelabuhan Feri Waijarang.

yang jelas bagi para sopir selama menunggu penyelesaian pembangunan Pelabuhan Waijarang. Ketidakpastian ini membuat mereka semakin terpuruk, tanpa arah dan tanpa jaminan kapan bisa kembali bekerja.

Aliansi ekspedisi Lembata berharap pemerintah daerah bersama pihak ASDP segera mengambil langkah tegas dan cepat dalam menangani persoalan dermaga feri. Mereka juga meminta adanya solusi sementara agar mereka bisa beraktivitas bongkar muat barang.

“Jangan biarkan kami terus menunggu tanpa kepastian. Kami hanya ingin bekerja dan menghidupi keluarga kami,” tendas Nesta.

Situasi ini menjadi ujian bagi komitmen pemkab Lembata dalam melindungi dan memperjuangkan kesejahteraan masyarakatnya. Jika tidak segera ditangani, krisis ini berpotensi menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas di wilayah Kabupaten Lembata.

Sementara itu, pemerintah daerah dalam hal ini, Wakil Bupati Lembata, Nasir Laode tengah melakukan acara Open House di kediaman Rumah Jabatannya, entah apa yang dipikirkan sampai lupa dengan kondisi masyarakat.

Menanggapi hal ini, Politisi PDI-P Ciprianus Pito Lerek angkat bicara, menurutnya, dengan kondisi pelabuhan Feri Waijarang yang rusak, pemda segera mendesak pihak ASDP untuk segera menangani masalah ini, atau segera mencari jalan keluar bagi para sopir untuk sementara waktu, karena bagi bung Pedro sapaan akrabnya mengatakan bahwa persoalan ini menyangkut kebutuhan ekonomi masyarakat, sudah 5 bulan belum ada tanda-tanda perbaikan, sementara mereka sopir harus menggangur berbulan-bulan.

Krisis ini menjadi ujian serius bagi komitmen pemerintah Kabupaten Lembata dalam melindungi warganya. Tanpa langkah cepat dan solusi nyata, dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas tak terhindarkan. Para sopir hanya memiliki satu harapan sederhana: kembali bekerja dan menghidupi keluarga mereka.**(BM)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *