LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com—Dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana yang diperingati setiap 26 April, sejumlah organisasi dan instansi menggelar pelatihan penanggulangan, Selasa (21/04/2026).
Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, di antaranya Forum Puspa, PPNI (Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia), Damkar, SatPol–PP, IBI (Ikatan Bidan Indonesia), TRC (Tim Reaksi Cepat), BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Lembata, LSM Permata, YBS Baru, Yayasan Plan Indonesia, Gempita (Gema Putra-Putri Lembata), PMI (Palang Merah Indonesia), Forum Kesejahteraan Difabel dan Keluarga (FKDK), serta komunitas Perempuan Fenomenal, dan F. PRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) Kabupaten Lembata.
Mikhael Alexander Raring, selaku ketua F.PRB dan kordinator kegiatan mengatakan kepada media ini. Pelatihan hari ini difokuskan pada pembekalan tim sekolah dalam menghadapi situasi darurat, khususnya bencana gempa bumi. Materi yang disampaikan mencakup Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD), teknik evakuasi, hingga penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) kebencanaan di lingkungan sekolah.
Lebih lanjut, Mikhael atau Achan Raring sapaanya menjelaskan bahwa dalam kegiatan ini, BPBD dan F.PRB akan menyasar 12 titik sekolah yang meliputi SMAK Yakobus, SMATER Donbosco, SMAS PGRI, SMAS Anugerah Kasih, SMK Ile Lewotolok, MTSN Wangatoa, SMAS Kusuma Bakti, SMAN 1 Nubatukan, SMK Kawula Karya, SMIP Santus, SMKN 1 Nubatukan, dan SMAN 2 Nubatukan

Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman terkait konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019. Regulasi tersebut menekankan pentingnya kesiapan sekolah dalam mengantisipasi dan merespons bencana secara terstruktur dan sistematis, ujar Achan.
“Simulasi dilakukan secara langsung di masing-masing sekolah untuk menguji kesiapan siswa, guru, serta tenaga kependidikan dalam menghadapi skenario darurat. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran serta keterampilan praktis seluruh warga sekolah dalam menyelamatkan diri saat terjadi bencana,“ tambah Achan.
Penyelenggara berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi seremonial, tetapi juga mampu membangun budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan, khususnya di wilayah Kabupaten Lembata. Dengan kolaborasi lintas sektor, kesiapsiagaan diharapkan dapat meningkat sehingga risiko dan dampak bencana dapat diminimalkan.**(BM)





















