Perkuat Legitimasi MURO, Jack Wuwur Apresiasi Peran Plan dan YBS

Foto: BM
banner 120x600
banner 468x60

LEMBATA, SWARALOMBLEN.com—Di bawah langit cerah Pantai Woi Pedang, pada Rabu, (23/04/2026) suara diskusi tentang laut dan tradisi bergema di Desa Riang Bao, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT.

Seminar tentang Muro bukan sekadar pertemuan biasa. Ia menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan modern dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.

banner 325x300

Muro, bagi masyarakat adat Ile Ape, bukan hanya aturan adat. Ia adalah cara hidup—cara menjaga laut, melindungi mangrove, dan memastikan ikan tetap ada untuk generasi berikutnya, dan memelihara ekosistem pesisir seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang adalah fondasi kehidupan masyarakat. Tanpa itu, laut kehilangan keseimbangannya.

Namun, di balik semangat itu, ada catatan penting. Kursi-kursi kosong di ruang seminar menjadi tanda bahwa keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda, masih perlu diperkuat.

Padahal, masa depan Muro ada di tangan mereka.

Seminar tentang Muro digelar Yayasan Bina Sejahtera (YBS) bersama Yayasan Plan Indonesia Lembata, mengandeng Koalisi Kopi. Koalisi Kopi dalam hal ini  Renya Wahon yang juga ditunjuk sebagai pembicara. Ia berujar bahwa: Anak-anak harus diajarkan ilmu yang kontekstual dengan kondisi daerahnya. Ia menilai generasi muda memiliki peran besar, namun tetap membutuhkan dukungan seluruh pihak, ujar Renya.

Kegiatan ini membahas pelestarian ekosistem pesisir dan pengembangan wisata berbasis kearifan lokal dengan melibatkan pemerintah, akademisi, pegiat lingkungan, dan masyarakat.

Perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan NTT, Siprianus Seru, menjelaskan pentingnya menjaga mangrove, lamun, dan terumbu karang sebagai habitat biota laut. Ia menegaskan sistem Muro sebagai kearifan lokal dapat menjadi model konservasi.

Pemerintah juga membuka peluang proposal konservasi berbasis Muro yang difokuskan pada pelestarian lingkungan, edukasi, keterlibatan masyarakat, dan peningkatan ekonomi warga, jelas Sipri.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Lembata, Jack Wuwur, dalam sesi tanya jawab bersama peserta yang hadir. Ia mengatakan bahwa setiap penyelenggaraan event budaya selalu memiliki sisi plus dan sedikit minus. Namun demikian, ia menilai bahwa manfaat yang dihasilkan jauh lebih besar, terutama dalam memperkuat identitas daerah dan mendorong sektor pariwisata.

“Setiap event pasti ada plus minusnya, tapi saya melihat lebih banyak nilai positifnya,” ujar Jack Wuwur dalam keterangannya.

Lanjutnya, kata dia bahwa Pemerintah Kabupaten Lembata telah memiliki landasan hukum melalui Peraturan Daerah (Perda) Muro yang ditetapkan pada tahun 2025. Perda tersebut lahir atas dorongan pemerintah daerah sebagai upaya melestarikan budaya lokal yang khas.

“Perda ini bersifat delegatif dan sangat khas, karena Muro hanya ada di Kabupaten Lembata. Ini menjadi identitas yang tidak dimiliki daerah lain,” jelasnya.

Menariknya menurut Jack Wuwur, keberadaan Muro memiliki dua fungsi utama. Pertama, sebagai penguat jati diri masyarakat lokal. Kedua, sebagai pengingat akan nilai-nilai budaya yang harus terus dijaga dan diwariskan. Ia juga menekankan pentingnya edukasi sejak dini, khususnya di lingkungan sekolah, agar generasi muda mengenal dan memahami Muro sebagai bagian dari warisan budaya daerah.

“Sekolah-sekolah harus memastikan siswa dan siswi mengenal Muro. Ini penting untuk keberlanjutan budaya kita,” tambahnya.

Dalam konteks pengembangan pariwisata, Jack Wuwur menyebutkan tiga elemen utama yang perlu diperhatikan, yakni cerita, foto, dan video. Cerita menjadi dasar dalam membangun narasi wisata, meskipun di era digital saat ini, cerita harus dikemas secara menarik agar tidak kalah dengan arus informasi visual. Dan dokumentasi dalam bentuk foto dinilai penting sebagai jejak kegiatan yang dapat menarik perhatian wisatawan dari luar daerah. Begitu pula dengan video yang dinilai lebih kuat dalam membangun ingatan dan daya tarik, terutama melalui penyebaran di media sosial.

“Dengan smartphone, video tentang Muro sudah bisa tersebar luas. Ini membuat orang tidak mudah lupa dan justru penasaran untuk datang langsung,” katanya.

Melalui pendekatan tersebut, diharapkan wisata budaya Muro dapat semakin dikenal luas dan menarik kunjungan wisatawan ke Lembata. Jack optimistis, keindahan alam yang dipadukan dengan keramahan masyarakat lokal akan menjadi daya tarik tersendiri.

“Lembata itu indah, masyarakatnya ramah, dan senyum menjadi ciri khas. Ini yang akan membuat orang ingin datang dan kembali lagi,” tutupnya.**(BM)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *