Semangat Buruh TKBM Lewoleba dalam Terang Iman, Bersama Rd. Kristian Uran, dan Refleksi Hari Buruh

Rd. Kristian Uran saat sedang memimpin ibadat misa syukur HUT Buruh Internasional, yang terjadi di lokasi Ex Harnus, Pantai Wulon Luo. Homili ini menjadi penting bagi kerja Buruh Pelabuhan Laut Lewoleba (TKBM)
banner 120x600
banner 468x60

LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com— Suasana sederhana namun penuh makna tampak dalam perayaan ibadah yang digelar di bawah tenda terbuka pada peringatan Hari Buruh Internasional. Mereka duduk berjejer di kursi plastik, menyimak kotbah yang mengangkat tema martabat kerja dan panggilan hidup sebagai pekerja, Jumat (01/05/2026).

Rd. Kristian Uran dalam kotbahnya, menekankan pentingnya menghargai setiap profesi, tanpa memandang besar kecilnya pekerjaan. Ia mengawali refleksinya dengan sebuah kisah yang sempat viral beberapa bulan lalu, ketika seorang ibu meremehkan profesi sopir dan menuai kecaman publik.

banner 325x300

“Jangan pernah anggap sepele pekerjaan. Apa pun itu, pekerjaan adalah jalan Tuhan untuk memberi kita hidup,” tegasnya di hadapan para Buruh yang tergabung dalam Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Pelabuhan Laut Lewoleba itu.

Menurut Rd. Kristian Uran dalam Homilinya,  pekerjaan bukan semata tentang melakukan apa yang disukai, melainkan bagaimana seseorang belajar mencintai apa yang dikerjakannya. Pesan ini menjadi relevan di tengah realitas sosial, di mana masih banyak orang memandang rendah profesi tertentu.

Lebih jauh, kotbah tersebut mengaitkan nilai kerja dengan ajaran Injil. Dikutip dari pesan Yesus kepada para murid sebelum kenaikan-Nya, umat diajak untuk tidak gelisah dalam menghadapi kehidupan. “Percayalah kepada Allah dan juga kepada-Ku,” menjadi kunci ketenangan di tengah berbagai tantangan hidup.

“Ketika kita percaya, kita tidak mudah cemas. Hidup memang penuh masalah, tetapi iman membuat kita tetap kuat,” lanjutnya.

Dalam momentum HUT Buruh Internasional, kaum ibu—khususnya istri para buruh—juga mendapat perhatian khusus. Mereka disebut sebagai pilar penting dalam keluarga yang turut merasakan perjuangan hidup para pekerja.

Kotbah tersebut juga menyoroti fenomena sosial di kalangan generasi muda, khususnya di Lembata. Banyak anak muda dinilai terlalu berorientasi menjadi pegawai negeri sipil (PNS), sehingga enggan menjalani pekerjaan lain yang dianggap “kotor” atau kurang bergengsi.

“Banyak yang pulang dari kuliah, ijazah disimpan di kampung, tapi tidak mau bekerja karena gengsi. Ini yang perlu kita ubah,” ujarnya dengan nada kritis.

Padahal, lanjutnya, tidak semua orang dipanggil untuk pekerjaan yang sama. Ada yang bekerja di lapangan, ada yang di kantor, dan semuanya memiliki nilai yang sama di hadapan Tuhan.

Dalam konteks iman Katolik, sosok Santo Yosef diangkat sebagai teladan. Dikenal sebagai pelindung kaum Buruh, Santo Yosef digambarkan sebagai pribadi sederhana, tidak banyak bicara, tetapi setia bekerja keras demi keluarganya.

“Dia tidak mencari pujian, tapi bekerja dengan ketulusan. Itu yang harus kita teladani,” tambahnya.

Di akhir refleksi, disampaikan pula keprihatinan terhadap kondisi ekonomi lokal. Disebutkan bahwa banyak sektor ekonomi justru dikuasai oleh pihak luar, sementara masyarakat setempat belum sepenuhnya mengambil peran aktif.

“Kita orang Lembata seharusnya malu jika hanya bergantung pada satu jenis pekerjaan. Padahal masih banyak peluang yang bisa dikerjakan. Tuhan selalu menyediakan jalan, salah satunya lewat kerja keras kita sebagai buruh,” ungkapnya.

Ia menutup kotbah dengan ajakan untuk mengubah pola pikir dan mulai menghargai setiap pekerjaan sebagai berkat. “Bukan soal besar kecilnya gaji, tetapi bagaimana pekerjaan itu bisa menghidupi keluarga dan memberi masa depan.”

Perayaan Hari Buruh ini pun menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia menjadi ruang refleksi, mengingatkan kembali bahwa kerja bukan hanya kewajiban, tetapi juga panggilan hidup yang bermartabat.**(BM)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *