Opini  

Kecambah Politik Adu Domba di Indonesia, Patologi Bagi Stabilitas Bangsa

Oleh: Yurgo Purab 

Yurgo Purab: Jurnalis
banner 120x600
banner 468x60

Ayah saya beragama Katolik. Ibu saya beragama Islam dan adik Ipar saya beragama Kristen. Meski dikandung dalam tiga agama, kami hidup rukun. Saat kakek dan om kandung saya datang ke rumah, tugas saya adalah mengusir anjing yang berkeliaran sekitar rumah. Saya sangat menghormati keyakinan kakek dan om saya. Demikian pula, hal yang sama saya perlakukan bagi adik Ipar saya yang beragama Kristen.

Gambaran kebhinekaan di atas adalah salah satu dari sekian cerita kebersamaan lintas agama, yang tumbuh dari satu rumah bernama Indonesia. Indonesia adalah rumah bagi setiap manusia yang berbeda keyakinan, ras, etnis dan pulau. Keberagaman itu bertumbuh indah dan saling melengkapi. Namun kerap dirusak oleh kepentingan golongan tertentu demi meraih kekuasaan. Shawat dari elit poltik ini biasanya menebarkan arus propaganda kebencian yang dapat saja mengguncang stabilitas bangsa.

banner 325x300

Bangsa kita cepat sekali diadu domba. Dan sejarah telah mencatat, politik adu domba atau Devide et Impera, pecah belah untuk menguasai adalah bagian dari luka sejarah yang sulit dihapus dari peradaban bangsa kita. Zaman kolonial, kita bisa diadu domba oleh VOC, dengan merusak kekerabatan suku, ras dan agama dan mengambil keuntungan dari konflik internal sesama anak bangsa.

Akhir-akhir ini arus propaganda baru muncul di Indonesia. Platform media sosial Facebook penuh dengan propaganda kebencian yang bertebaran tanpa filter. Parahnya, agama-agama saling serang menyerang dan mengklaim kepemilikan surga. Agama Katolik dan Kristen, misalnya. Dua agama yang seharusnya tumbuh saling mengasihi sesuai ajaran kasih Yesus, malah saling menghujat. Padahal, jika diteliti, kedua agama bisa saling berdialog dan belajar. Agama Katolik bisa belajar dari protes Martin Luther. Reformasi itu membawa perubahan dan cara pandang Gereja Katolik. Demikian pula Kristen-Protestan, punya sejarah panjang dengan Gereja Katolik, karena Alkitab ditulis merupakan bagian dari sejarah perpanjangan tangan para Santo dan bapak Gereja.

Selain itu, perpecahan kubu pendukung Pro Israel dan Amerika Serikat Vs Iran dipropagandakan seakan mendukung Iran berarti berada di pihak Islam dan mendukung Israel berada di pihak Kristen. Padahal, kita tahu Agama-agama tak pernah mengajarkan perang, pertumpahan darah atau sengketa demi nama Tuhan, sekalipun.

Kecambah politik adu domba di Indonesia seharusnya perlu direfleksikan dan dideteksi sejak dini karena dapat saja menjadi bipolar yang meluas, serta merusak tatanan sosial, kekerabatan dan mengguncang stabilitas bangsa. Hal ini dapat saja dimanfaatkan antek asing untuk memecah bela bangsa dan membangun kesadaran kolektif semu untuk meraih keuntungan pribadi dan golongan.

Negara, bagi saya tak bisa kalah. Negara harus mendeteksi adanya pion yang bergerak senyap serta mencegah pemain catur belakang layar yang hanya bersembunyi dalam bayang, mendanai propaganda dan punya niat merusak tatanan pluralitas bangsa kita tercinta bernama Indonesia. Sebab, seperti kata Hatta dalam “Indonesia Merdeka”.

Indonesia memiliki beberapa kelemahan, yakni: Agraris-terikat dengan tanah; mentalitas insuler-kepulauan dan seperti katak dalam tempurung.

Saya menganalisis pernyatan Hatta sebagai berikut: Pertama, Indonesia sebagai sebuah bangsa selalu terikat dengan tanah. Masyarakat kita rata-rata agraris, petani. Namun, konflik tanah selalu berbuntut panjang di negara ini. Pertumpahan darah bisa terjadi karena saling klaim kepemilikan tanah. Kedua, mentalitas insuler-kepulauan. Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang terbentang dari Sabang-Merauke. Karena terdiri dari pulau-pulau, mentalitas egoistik kepulauan sangat tinggi. Meski satu bangsa, kita kerap mengkotak-kotakan diri dengan mengatasnamakan pulau atau wilayah tertentu dan cenderung mengkerdilkan wilayah lain atau pulau lain. Selalu ada ego wilayah nampak dalam kehidupan berbangsa. Ketiga, mental katak dalam tempurung. Mental dengan wawasan sempit sehingga mudah sekali ikut arus. Kelemahan ini mesti kita rawat untuk diperbaharui agar rumah Kebhinekaan ini aman dan damai, bebas dari sengketa.**

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *