LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com—Carut marut persoalan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Lembata terus menyita perhatian berbagai pihak. Beragam diskusi dan upaya telah dilakukan untuk mengurai persoalan yang hingga kini belum juga menemukan solusi yang tuntas.
Pemerintah Kabupaten Lembata bersama berbagai elemen terus mencari jalan keluar agar persoalan distribusi BBM dapat diselesaikan, sehingga masyarakat lebih mudah memperoleh BBM, khususnya jenis bersubsidi.
Merasa terpanggil untuk ikut mencari solusi, Wakil Ketua 1 DPRD Kabupaten Lembata dari Fraksi Golkar, Fransiskus Namang, membangun komunikasi dan berdiskusi langsung dengan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) di Jakarta, Selasa (21/07/2026.
Langkah tersebut, menurut politisi yang akrab disapa Ciku, merupakan bagian dari ikhtiar mencari solusi atas persoalan BBM bersubsidi yang terus berulang di Kabupaten Lembata.
“Masalah BBM di Lembata sudah sangat serius,“ kata Ciku.
Ia menjelaskan, kelangkaan BBM bersubsidi, terutama Pertalite dan Solar, masih kerap terjadi karena stok yang tersedia lebih cepat habis dibandingkan kebutuhan masyarakat. Karena itu, Ciku mendorong pemerintah pusat untuk menambah kuota BBM bersubsidi bagi Kabupaten Lembata.
Selain persoalan kuota, Ciku juga menyoroti belum optimalnya pemanfaatan fasilitas Jaringan Operasi Bersama (Jober) atau mini terminal BBM milik Pemerintah Kabupaten Lembata. Menurutnya, apabila fasilitas tersebut difungsikan secara maksimal, distribusi BBM ke Lembata akan lebih terjamin sehingga kelangkaan Pertalite dan Solar dapat diminimalkan.
Ia juga mengkritisi sistem pengangkutan BBM menuju Lembata yang dinilai belum memenuhi standar. Menurutnya, pengangkutan BBM oleh PT Trans Floreti dari Pelabuhan Larantuka ke Lewoleba masih menggunakan kapal kayu dengan BBM yang disimpan dalam drum.
Ciku menilai distribusi BBM seharusnya dilakukan menggunakan kapal yang memenuhi standar keselamatan nasional. Ia mendorong Pertamina menunjuk transportir yang memiliki kapal tanker mini agar distribusi BBM dapat dilakukan langsung dari Maumere ke Lewoleba tanpa harus melalui jalur darat Maumere–Larantuka dan kemudian diseberangkan kembali ke Lewoleba.
Dalam kesempatan itu, Ciku juga menyinggung keberadaan pengecer BBM di Jakarta yang menjual BBM dalam botol.
“Di Jakarta juga ada pengecer BBM yang menjual BBM dalam botol, tetapi tidak dikejar Satpol PP“, pungkas Namang.**(Tim/red)





















