TEMAN KITA Jadi Ajang Nostalgia dan Merawat Budaya 

Foto: AW
banner 120x600
banner 468x60

LEMBATA, SWARALOMBLEN.com— Permainan tradisional kembali menggema di Desa Dulitukan, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata. Ratusan pelajar dan masyarakat tumpah ke lapangan mengikuti Teras Main Kekinian Lembata (TEMAN KITA) 2026 yang digagas Komunitas Permainan dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Komunitas Baibereun.

Namun, TEMAN KITA 2026 bukan sekadar perlombaan permainan rakyat.

banner 325x300

Di tengah semarak permainan hadang, gasing atau kote, tembak karet, kasti tradisional hingga ito, KPOTI NTT juga menghadirkan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat melalui kolaborasi dengan Puskesmas Waipukang.

Rangkaian kegiatan yang berlangsung 6–8 Agustus 2026 itu menjadi ruang perjumpaan antara pelestarian budaya, olahraga tradisional, pelayanan kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Pelayanan Kesehatan Gratis Menyentuh Warga

Pelayanan kesehatan gratis dilaksanakan Kamis (6/8/2026) di Kantor Desa Dulitukan. Puskesmas Waipukang menurunkan tim medis yang terdiri dari dokter, analis laboratorium, asisten apoteker, bidan, perawat, dan tenaga kesehatan lingkungan.

Kepala Puskesmas Waipukang, Kristo Werang, mengatakan pelayanan tersebut dilaksanakan berdasarkan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata.

“Kami mendapatkan disposisi dari Plt. Kepala Dinas Kesehatan untuk melaksanakan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat. Kami hadir dengan personel yang cukup lengkap agar pelayanan dapat diberikan secara maksimal,” ujar Kristo.

Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan masyarakat. Apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien akan diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit.

Puskesmas Waipukang juga menyiapkan tim Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) selama rangkaian TEMAN KITA berlangsung untuk memastikan aspek kesehatan dan keselamatan peserta maupun masyarakat tetap mendapat perhatian.

Kepala Desa Dulitukan, Alfonsus Ata Soge, mengapresiasi kolaborasi tersebut.

“Pemeriksaan kesehatan gratis ini hal yang sangat baik sehingga masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara langsung,” katanya.

Menurut Alfonsus, layanan tersebut sangat penting, terutama bagi anak-anak. Keterbatasan anggaran selama ini membuat pemerintah desa belum dapat menghadirkan tenaga kesehatan secara khusus untuk masyarakat.

Karena itu, ia berharap kegiatan pelayanan kesehatan seperti ini dapat terus dilakukan sehingga masyarakat semakin sadar akan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Ratusan Pelajar Hidupkan Kembali Permainan Rakyat

Sementara itu, TEMAN KITA 2026 resmi dibuka di Lapangan Sepak Bola Desa Dulitukan, Kamis (6/8/2026).

Mengusung tema “Bersama Bermain, Bersama Berdaya”, kegiatan ini diikuti ratusan pelajar dari 10 sekolah tingkat SD dan SMP di Kecamatan Ile Ape.

Ketua KPOTI NTT, Sandro Wangak, hadir bersama Kepala Desa Dulitukan Alfonsus Ata Soge, Ketua Komunitas Baibereun Maria Mila Ate, para guru pendamping, serta masyarakat.

Ketua Komunitas Baibereun, Maria Mila Ate, mengapresiasi keterlibatan sekolah dan para guru yang membawa anak-anak mengikuti kegiatan tersebut.

Ia menilai antusiasme peserta menunjukkan bahwa permainan rakyat masih memiliki tempat di hati generasi muda.

“Semoga kegiatan hari ini dapat diikuti dengan baik sesuai dengan peraturan yang sudah disepakati bersama. Jadikan perlombaan ini sebagai ajang untuk belajar, bergembira, dan mempererat persaudaraan,” ujarnya.

Sejumlah permainan tradisional dipertandingkan, di antaranya kasti tradisional, gasing atau kote, tembak karet, hadang, serta ito/kasti tradisional.

Lapangan Desa Dulitukan pun berubah menjadi ruang bermain sekaligus ruang belajar bagi anak-anak. Sorak-sorai penonton mengiringi setiap pertandingan, sementara para peserta menunjukkan ketangkasan, kerja sama, disiplin, dan sportivitas.

Bupati dan Wakil Bupati Ikut Bermain

Kemeriahan berlanjut pada hari kedua, Jumat (7/8/2026).

Sejak pagi, lapangan sepak bola Desa Dulitukan dipadati peserta dan masyarakat. Pelajar SMP mengikuti lomba hadang, sementara tingkat SD berkompetisi dalam permainan pesikaret atau tembak karet.

Permainan kote atau gasing kategori SMP juga menjadi salah satu tontonan menarik. Para peserta memperlihatkan ketangkasan memainkan permainan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kejutan terjadi pada sore hari ketika Bupati dan Wakil Bupati Lembata bersama rombongan tiba di lokasi.

Keduanya tidak hanya hadir sebagai penonton. Bupati dan Wakil Bupati turut mengambil bagian dalam permainan tradisional bersama peserta dan masyarakat.

Keterlibatan pimpinan daerah itu menjadi simbol dukungan terhadap gerakan pelestarian permainan rakyat yang dilakukan KPOTI NTT dan Komunitas Baibereun.

Bagi masyarakat, kehadiran pimpinan daerah sekaligus memperlihatkan bahwa permainan tradisional masih relevan di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Menjaga Budaya, Membangun Generasi

TEMAN KITA 2026 akhirnya tidak hanya menjadi panggung perlombaan. Kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan budaya, pendidikan, kesehatan, olahraga, dan kebersamaan masyarakat.

Permainan rakyat yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan anak-anak kembali dihidupkan di tengah generasi baru.

Di saat yang sama, pelayanan kesehatan gratis memberikan manfaat langsung bagi warga Desa Dulitukan.

Pesan yang dibawa pun menjadi lebih luas: melestarikan permainan tradisional berarti menjaga identitas budaya, sementara membangun generasi berarti memastikan mereka tumbuh sehat, aktif, sportif, dan memiliki semangat kebersamaan.

Melalui TEMAN KITA 2026, KPOTI NTT bersama Komunitas Baibereun dan berbagai pihak menunjukkan bahwa permainan tradisional bukan sekadar warisan masa lalu.

Ia dapat menjadi medium untuk membangun karakter, memperkuat persaudaraan, sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.**(Tim/red)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *