Seruan Warga Desa Atakore untuk Tolak Geothermal

Dok: SL
banner 120x600
banner 468x60

LEMBATA, SWARALOMBLEN.com—Penolakan terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Atadei makin keras. Pemangku adat, kelompok perempuan, tokoh agama, dan warga Desa Atakore, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, memasang tiga papan pernyataan penolakan di sejumlah titik strategis pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Pemasangan papan dilakukan di Watuwawer, Desa Atakore. Pemangku adat dari Suku Wawin dan Puhun selaku tuan tanah, tokoh agama yang diwakili Rm. Firminus Dai Koban, Kelompok Perempuan Akar Rumput Ina Kar, serta Kelompok Warga Peduli Ahar yang dikoordinasikan Konstantinus Kepolok Huar terlibat dalam kegiatan tersebut.

banner 325x300

Sebelum papan dipancangkan, Yohanes Lagar Lejap selaku molan atau pelaksana ritual adat melakukan prosesi adat. Ia memercikkan darah ayam ke papan penolakan sebagai simbol kesakralan adat dan penegasan keputusan yang diyakini telah disepakati bersama leluhur.

Tiga papan penolakan kemudian dipasang di tiga lokasi. Titik pertama berada di Petun, simpang Lewokoba yang menjadi pintu masuk Desa Atakore. Titik kedua di Genek, ruas jalan utama Desa Atakore. Titik ketiga berada di pintu masuk kawasan wisata Dapur Alam Atakore, yang merupakan lokasi panas bumi.

Pemasangan di tiga titik itu dimaksudkan sebagai penanda terbuka bahwa penolakan terhadap rencana pembangunan PLTP Atadei bukan hanya disampaikan di satu ruang, melainkan ditegaskan dari sejumlah akses utama menuju wilayah Atakore.

Setelah pemasangan papan, Kelompok Perempuan Akar Rumput Ina Kar dan Kelompok Warga Peduli Ahar membacakan deklarasi penolakan pembangunan PLTP Atadei.

Koordinator Perempuan Akar Rumput Ina Kar, Yohana Simo Huar, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menyatakan secara terbuka dan tegas sikap warga Atakore terhadap rencana pembangunan PLTP Atadei. Menurut dia, penolakan itu sekaligus untuk menguatkan keputusan adat yang telah disepakati.

“Tanah, air, dan kehidupan tidak dapat diperjualbelikan,” kata Yohana saat deklarasi.

Ia mengatakan kelompok perempuan juga ingin menegaskan posisi perempuan sebagai penjaga sumber kehidupan dan masa depan generasi berikutnya.

Yohana berharap pemerintah dan pihak pengembang menghormati keputusan adat serta kehendak warga Atakore. Ia juga meminta tidak ada upaya memecah belah, memaksa, atau menekan warga dalam proses pembangunan proyek tersebut.

“Suara perempuan harus didengar dan dihargai dalam setiap keputusan yang menyangkut kehidupan bersama,” demikian salah satu poin deklarasi.

Deklarasi penolakan dibacakan berbeda di tiga titik. Di titik pertama, pemangku adat menyatakan, “Tak ada ruang tambang panas bumi di Atakore, tolak harga mati.”

Di titik kedua, Kelompok Perempuan Akar Rumput Ina Kar menyatakan sikap mereka melalui seruan “Tanah adalah ibu kami. Kami perempuan akar rumput Ina Kar menyatakan dengan tegas, menolak tambang panas bumi Atadei. Tolak harga mati.”

Seruan itu dilanjutkan dengan pekik penolakan terhadap geothermal.

Sementara di titik ketiga, deklarasi dibacakan bersama. Warga menyatakan dukungan terhadap pernyataan para uskup se-Provinsi Gerejawi Ende yang disebut menolak geothermal.

“Kami umat Katolik Keuskupan Larantuka mendukung pernyataan para uskup se-Provinsi Gerejawi Ende menolak geothermal. Tolak harga mati,” demikian bunyi deklarasi.

Kegiatan berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 16.30 Wita. Rangkaian kegiatan ditutup dengan evaluasi dan makan bersama di kawasan wisata Dapur Alam Watuwawer.

Bagi warga yang terlibat, pemasangan tiga papan tersebut bukan sekadar penanda lokasi. Mereka menjadikannya simbol penegasan sikap bahwa tanah dan sumber air di Atakore harus tetap berada dalam perlindungan masyarakat dan adat.Atakore, kata mereka, harus tetap berdiri teguh, tanah dijaga, air terjaga, supaya masa depan anak cucu terlindungi.**(Sumber KataWarga)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *