Seribu Lilin di Harnus, Pesan Cinta Lomblen United untuk Korban Gempa Flores

Adventorial

Dok: SL
banner 120x600
banner 468x60

LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com—Malam Sabtu itu, di Pantai Wulen Luo, Lewoleba eks lokasi Harnus (2016), 5 September 2026, tidak sekadar diterangi lampu panggung.

Ribuan nyala lilin ikut menerangi malam. Di antara alunan musik, suara doa dan keheningan sesaat, masyarakat Lembata berkumpul membawa satu pesan untuk saudara-saudara mereka yang sedang berduka akibat gempa bumi di Flores.

banner 325x300

Pesan itu sederhana: Flores tidak sendiri.

Pesan tersebut disampaikan melalui Konser Amal, Penggalangan Dana, Doa Bersama dan Malam Seribu Lilin yang digelar Lomblen United.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari Dinas Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan Kabupaten Lembata, Kantor Kecamatan Nubatukan, Toko Olympic dan PLN Lembata.

Malam itu, sepak bola mengambil peran yang berbeda.

Bukan soal kemenangan. Bukan soal gol. Bukan pula tentang siapa yang berdiri paling tinggi di podium.

Sepak bola menjadi pintu masuk untuk berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar: kemanusiaan.

Ketika Sepak Bola Berbicara tentang Kemanusiaan

Perwakilan Lomblen United, Lorens Belawa, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan persaudaraan terhadap masyarakat Flores yang sedang menghadapi bencana.

“Malam itu, bukan hanya tentang sepak bola. Bukan tentang siapa yang menang, siapa yang mencetak gol, atau siapa yang berdiri paling tinggi di podium,” kata Lorens.

Menurutnya, Lomblen United ingin menunjukkan bahwa sebuah komunitas dapat berdiri bersama ketika saudara mereka membutuhkan pertolongan.

“Lomblen United bukan sekadar nama sebuah tim sepak bola. Kami datang membawa semangat persaudaraan,” ujarnya.

“Lomblen United mungkin hanya sebelas pemain ketika berada di lapangan. Tetapi ketika berbicara tentang kemanusiaan, kami ingin menjadi bagian dari ribuan hati yang berdiri bersama,” ungkap Lorens.

Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai “Amal Lomblen United for Korban Gempa Flores”.

“Dari kerekatan hati Lomblen United untuk menyapa retaknya tanah Flores,” katanya.

Flores dalam Ratapan

Suasana semakin khidmat ketika renungan dan doa dibawakan oleh Frater Toni Nahak.

Dalam renungannya, Frater Toni mengajak masyarakat untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan sesama.

Flores, kata dia, bukan sekadar sebuah wilayah geografis. Flores adalah tanah yang menyimpan sejarah panjang, kekayaan budaya dan nilai-nilai religiositas.

Namun, setelah dihantam bencana gempa bumi, tanah itu kini sedang berada dalam suasana duka.

Karena itu, masyarakat Flores membutuhkan lebih dari sekadar rasa iba.

Dibutuhkan simpati, empati dan solidaritas yang nyata.

Flores harus bangun. Flores harus bangkit.

Dan di tengah penderitaan itu, kepedulian dari sesama menjadi salah satu kekuatan untuk kembali berdiri.

Suasana hening saat aksi Konser

Musik Menjadi Jembatan Solidaritas

Pesan kemanusiaan itu kemudian diterjemahkan melalui musik.

Sejumlah musisi Lembata dan Adonara tampil dalam konser amal tersebut. Mereka antara lain L Wurin, Martin Kurman, Yanti Buran, HLF, JS Nama Raga, Nuren Band dan Blakalei Band.

Mereka datang bukan sekadar untuk menghibur.

Mereka datang untuk ikut menyumbangkan energi, suara dan karya bagi gerakan kemanusiaan.

Salah satu penampil yang menjadi perhatian adalah Blakalei Band, grup musik asal Adonara yang telah berkarya sejak 2011.

Selama kurang lebih 15 tahun berkarya, Blakalei Band telah merilis sekitar 20 lagu.

Grup ini diperkuat empat personel. Cimeng pada bass yang juga merupakan guru ASN SMPN Witihama. Rusdy Bahy sebagai lead gitaris yang merupakan ASN pada Dinas Kominfo Lembata. Rill sebagai rhythm gitaris sekaligus vokalis dan musisi yang berkarya di Bali. Sementara Jeje Betekeneng berada di posisi drum dan merupakan putra asli Lembata yang juga berprofesi sebagai guru ASN SMPN Witihama.

Di YouTube, Blakalei Band disebut telah memiliki sekitar 339 ribu pengikut.

Salah satu karya yang paling dikenal adalah “Ina Benga”, lagu yang terinspirasi dari kisah nyata dan diciptakan oleh Rill.

Rp10 Juta dari Blakalei untuk Korban Gempa

Kehadiran Blakalei Band di Lembata memiliki alasan yang lebih dalam daripada sekadar memenuhi panggung hiburan.

Mereka datang membawa misi kemanusiaan.

Dalam rangkaian penggalangan dana, Blakalei Band berhasil menghimpun Rp10 juta yang kemudian disalurkan bagi korban gempa bumi di Flores.

Pada konser amal di Harnus, Blakalei membawakan sekitar 10 lagu.

Panggung malam itu akhirnya menjadi ruang pertemuan antara musik dan kemanusiaan.

Nada-nada yang dimainkan menjadi bentuk lain dari doa. Sementara donasi yang dikumpulkan menjadi bentuk nyata dari kepedulian.

Filosofi Blakalei pun terasa relevan dengan gerakan tersebut: sesuatu yang mungkin dianggap tidak penting atau tidak baik, bukan berarti tidak memiliki kegunaan.

Pesannya jelas.

Tidak ada kepedulian yang terlalu kecil ketika diberikan untuk kemanusiaan.

Dan malam itu, melalui seribu lilin yang menyala di Pantai Wulen Luo eks Harnus (2016), Lomblen United for Flores.

 

Sebuah Catatan:

LOMBLEN UNITED, KONSER AMAL, DAN SERIBU LILIN

Malam itu, bukan tentang perayaan turnamen sepak bola.

Bukan tentang siapa yang menang, siapa yang mencetak gol, atau siapa yang berdiri paling tinggi di podium.

Malam itu, Lomblen United berdiri dalam spirit Bola kaki untuk memandang sesuatu nilai yang jauh lebih besar. Nilai itu Nilai Kemanusiaan. Dari Spirit Bola untuk cetusan Kemanusiaan. Sepak Bola mengajarkan kita akan realisme Nasib. Nasib itu entah sukses entah gagal tidak terbaca dalam suatu pergulatan dengan rentang waktu yang Panjang. Bisa tiba tiba. Dan sangat boleh jadi tak terduga. Karena itu bisa dalam waktu yang amat pendek. Mengejutkan. Kalah dan Menang sering ditentukan dalam hitungan tiga menit. Itulah yang ditulis oleh Jhoan Cruyff dalam puisinya :

In each game there are only three minutes

And those of course subidivided into moments

The really matter

In three minutes you win or lose

Mencampakan sebuh tim ke dalam jurang kekalahan bisa datang dalam peristiwa yang tak terduga. Mengejutkan untuk yang terlena. Menegangkan untuk yang berjaga. Sepak Bola adalah Drama bagi Kehidupan yang jatuh dan bangun.

Di atas spirit ini Lomblen United memandang retaknya tanah flores dalam sebuah misi kemanusiaan. Hidup yang sudah dimenangkan sekian tahun bahakan abad dihancurkan dalam hitungan detik oleh gempa berkekuatan M7,7. Senyum kehidupan bumi Flores yang bikin terlena sekian Zaman dibikin kecut dan kejut dalam sepersekian detik amukan perut bumi. Tidak kah itu drama bagi kehidupan yang jatuh dan bangun sebagaimana dalam sebuah pertandingan bola kaki? Itulah mengapa seorang Franz Kafka berkata dalam sepak bola, Setiap detik hidup adalah Final. Karena final maka Albert Camus mengingatkan kita bahwa” Dalam hal keutamaan dan Tanggung jawab akan tugas, saya belajar dan berhutang budi pada sepak bola”.

Dan untuk yang” final dan membutuhkan keutamaan” itulah konser Amal Lomblen Peduli Kasih hadir.

Setiap detik hidup adalah final selalu berhadapan dengan perjuangan jatuh dan bangun. Tawa dan tangis. Pahit getir dan tawa senang. Semua harus diperjuangkan. Utnuk hal itu kita butuh keutamaan solidaritas. Keutaman solidaritas sebagai cetusan nilai kemanusiaan. Cetusan yang “dirayakan” dalam aksi kemanusiaan bernada “Lomblen United : Konser Amal Peduli Kasih”.

Di tengah gemerlap panggung dan lantunan musik dalam sebuah konser amal, ribuan orang berkumpul membawa satu harapan: membantu mereka yang membutuhkan, menguatkan mereka yang sedang berjuang, dan mengingatkan bahwa masih ada kepedulian di antara kita.

Lalu, satu per satu lilin dinyalakan.

Seribu lilin.

Seribu cahaya kecil yang mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dinyalakan bersama, mampu menerangi kegelapan.

Di antara cahaya itu, nama Lomblen United bukan sekadar nama sebuah tim sepak bola. Lomblen United sedang menghidupi nilai nilai unggul sepak bola.

Mereka datang membawa semangat persaudaraan.

Karena bagi Lomblen United, sepak bola bukan hanya tentang lapangan hijau. Sepak bola adalah tentang manusia. Tentang kebersamaan. Tentang bagaimana sebuah komunitas bisa berdiri bersama ketika saudara mereka membutuhkan uluran tangan.

Malam itu, suara musik berpadu dengan doa.

Tepuk tangan berpadu dengan air mata.

Dan seribu lilin menjadi saksi bahwa sebuah kepedulian, sekecil apa pun, bisa menjadi cahaya bagi orang lain.

Lomblen United mungkin hanya sebelas pemain ketika berada di lapangan.

Tetapi ketika berbicara tentang kemanusiaan, mereka ingin menjadi bagian dari ribuan hati yang berdiri bersama.

Sebab pada akhirnya…

Kita mungkin berbeda jersey.

Berbeda klub.

Berbeda jalan.

Namun ketika saudara membutuhkan pertolongan, kita semua berada di sisi yang sama.

Di bawah langit malam itu, seribu lilin terus menyala.

Dan Lomblen United belajar satu hal:

Piala bisa diperebutkan.

Kemenangan bisa dirayakan.

Namun kebaikan yang diberikan kepada sesama akan selalu dikenang.

Inilah Lomblen United.

Bukan hanya tentang bertanding sepak bola. Tapi nilai sepak bola yang hidup. Tentang persaudaraan, kepedulian, dan seribu cahaya yang menolak padam.**(Humas Lomblen United)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *