LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com— Aliansi Ekspedisi Lembata (AXEL) mengancam akan menutup Pelabuhan Feri Waijarang di Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur apabila hingga Kamis, 4 Juni 2026, tidak ada aktivitas bongkar muat yang dilakukan oleh pihak ASDP.
Pernyataan tersebut disampaikan salah satu penanggung jawab AXEL, Ciprianus Pito Lerek, dilansir dari Bidik NTT, 31 Mei 2026. Menurutnya, persoalan pelayanan penyeberangan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir telah menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha dan pengguna jasa transportasi barang dan jasa di Pulau Lembata.
“ini merupakan bentuk pembiaran. Pemerintah Kabupaten Lembata seolah-olah belum mampu menghadirkan solusi atas persoalan yang terjadi dalam layanan penyeberangan,” ujar Ciprianus yang akrab disapa Pedro Lerek ini.
AXEL menilai ketidakpastian jadwal pelayaran berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, mereka mendesak adanya langkah konkret dari pemerintah daerah, DPRD, serta pihak ASDP untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Selain mengancam menutup pelabuhan, AXEL juga meminta DPRD Kabupaten Lembata membangun komunikasi yang lebih intensif dengan Pemerintah Kabupaten Lembata guna mencari solusi jangka panjang, termasuk kemungkinan menghadirkan alternatif layanan penyeberangan.
Keluhan serupa disampaikan sejumlah pengguna jasa ASDP. Salah satunya, Nadus, yang mengaku mengalami kerugian akibat pembatalan jadwal pelayaran rute Lewoleba–Larantuka–Kupang.
“Kami sebagai pengguna jasa dan pelaku bisnis merasa sangat kecewa. Muatan sudah kami siapkan, tetapi jadwal pelayaran tiba-tiba dibatalkan,“ katanya.
Menurut Nadus, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan komoditas yang telah dibeli dari wilayah pedesaan dan siap dikirim ke luar daerah.
Sementara itu, pengguna jasa lainnya, Nesta, meminta pihak ASDP tetap menjalankan jadwal pelayaran yang direncanakan pada 3 Juni 2026 dari Kupang menuju Lewoleba. Ia berharap tidak ada lagi pembatalan yang dapat memperburuk kondisi distribusi barang dan mobilitas masyarakat.
Hal senada disampaikan Broin Tolok. Menurutnya, jika pelayaran kembali dibatalkan, maka dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat di Lewoleba, tetapi juga pengguna jasa di Larantuka.
“Penumpukan kendaraan ekspedisi dapat terjadi di kedua wilayah dan mengganggu arus distribusi barang,“ tutur Nesta.
Masyarakat dibuat kecewa dengan kondisi yang terjadi terkait Pelabuhan Feri Waijarang yang sudah kurang lebih 8 Bulan belum ada lampu hijau untuk ditindaklanjuti, mereka kecewa besar dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak ASDP dan Pemerintah Kabupaten Lembata terkait tuntutan yang disampaikan AXEL dan para pengguna jasa penyeberangan.**(Tim/red)





















