Banjir Rendam Kota Lewoleba, Vigis Koban: Sudah Saya Ingatkan Pemda

Foto: BM
banner 120x600
banner 468x60

LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com—Banjir yang melanda Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (28/4/2026) kembali menyoroti lemahnya penataan kota dan sistem drainase. Peristiwa yang dipicu hujan berintensitas sedang hingga lebat itu menyebabkan genangan di sejumlah wilayah serta menelan korban jiwa.

Satu orang dilaporkan meninggal dunia, yakni Markus Maring (75), warga Desa Atulaleng, Kecamatan Buyasuri. Korban diduga terseret arus saat melintasi Kali Bean. “Korban ini sudah lansia, warga Desa Atulaleng, dia jadi korban saat melintas kali Bean,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Lembata, Yohanes Gregorius Solang Demo, Kamis (30/4/2026).

banner 325x300

Banjir yang kembali merendam sejumlah titik di Lewoleba ini bukan tanpa peringatan. Anggota DPRD Lembata dari Komisi II yang membidangi Infrastruktur jalan dan tata kelola perkotaan, Vigis Koban, mengaku telah sejak lama mengingatkan potensi banjir akibat buruknya sistem drainase dan pengelolaan tata kota.

Dalam rapat bersama Bappelitbangda pada 6 Maret 2025, Vigis telah memprediksi Lewoleba berpotensi mengalami banjir jika tidak ada pembenahan serius. Ia bahkan mengingatkan risiko kota tersebut menghadapi situasi serupa dengan kota besar yang kerap dilanda banjir.

“Nanti Lewoleba seperti Jakarta,” ujar anggota DPRD dari Partai Gerindra itu.

Lanjutnya, kata Vigis, Saat memantau langsung kejadian, kendati dengan hujan yang sedang turun, ia melihat di kawasan jembatan Wangatoa, volume air meluap hingga keluar dari daerah aliran sungai (DAS) dan masuk ke permukiman warga.

“Air sudah membentur rumah warga di bagian atas dan meluap ke bawah hingga berdampak sampai ke kawasan TPI dan BRI Cabang Lewoleba,” jelasnya.

Ia menilai, salah satu penyebab utama adalah tidak optimalnya fungsi cekdam di wilayah Komak yang seharusnya menjadi penampung air saat curah hujan tinggi. Vigis mengaku telah berulang kali mengusulkan perbaikan cekdam tersebut kepada pemerintah daerah agar dikoordinasikan dengan pihak provinsi.

“Kalau cekdam difungsikan dengan baik, air bisa ditampung dan yang keluar hanya sisa. Ini sudah saya sampaikan berkali-kali, tapi lambat ditindaklanjuti,” tegasnya.

Selain itu, banjir juga dilaporkan merendam kawasan sekitar Gereja Baneux hingga ke permukiman warga di bagian atas kota. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran masyarakat akan minimnya langkah antisipatif dari pemerintah.

Vigis mengaku kecewa karena hasil reses dan laporan masyarakat yang telah disampaikan tidak mendapat tindak lanjut konkret. “Saya cukup kesal, karena ini sudah berulang kali terjadi. Hasil reses sudah disampaikan, tapi tidak ada tindakan,” katanya.

Sementara itu, Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq bersama Wakil Bupati Nasir Laode saat bersamaan sedang memantau normalisasi kali Kahaona di Kelurahan Lewoleba Timur (Lamahora).

Masyarakat Lewoleba kini menanti langkah nyata dari pemerintah daerah agar bencana serupa tidak terus berulang setiap musim hujan. Perbaikan sistem drainase, optimalisasi infrastruktur penampung air, serta perencanaan tata kota yang berkelanjutan dinilai menjadi pekerjaan rumah mendesak yang harus segera diselesaikan.** (BM dan tim)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *