LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com— Banjir melanda wilayah Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Selasa (28/4/2026), setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut selama beberapa hari terakhir. Air dilaporkan merendam hampir seluruh rumah warga di sejumlah titik dan meluap hingga ke badan jalan utama.
Pantauan media ini di lapangan menunjukkan ketinggian air mencapai paha orang dewasa. Banjir juga menggenangi jalur strategis seperti jalan utama Trans Lembata dan ruas Jalan Dua Anton Engga Tifaona, sehingga mengganggu aktivitas warga.
Di Kelurahan Lewoleba Timur, wilayah terdampak cukup luas, khususnya di kawasan Lamahora Selatan. Data sementara mencatat:
RT 23–27: sekitar 14 rumah terdampak
RT 17 RW 03: sekitar 50 rumah
Sekitar kediaman warga setempat: kurang lebih 50 rumah
Selain itu, di RT 20/RW 04, sejumlah rumah warga juga terendam air. Seorang warga, Maria Hendrika Omi, menyebut banjir terjadi sekitar pukul 16.00 WITA, tidak lama setelah hujan reda. Air datang dengan arus deras dan cepat, merendam perabot rumah tangga seperti lemari, meja rias, dan barang-barang lainnya.
Warga lainnya, Yohanes Rehi dari RT 27/RW 05, mengaku terpaksa membobol sebagian dinding rumahnya untuk mengalirkan air yang masuk akibat banjir kiriman dari Kali Wai Kerit. Ia menyebut banjir kali ini sebagai yang terparah yang pernah terjadi di wilayah tersebut.
“Setiap hujan lebat, daerah kami pasti banjir. Tapi kali ini paling parah,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, terutama dalam perbaikan sistem drainase dan pengendalian aliran air.
Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB) Kabupaten Lembata, Michael Alexander Raring (Achan Raring) yang turun langsung ke lokasi mengatakan bahwa kondisi geografis menjadi salah satu penyebab utama banjir. Dari total 20 aliran kali yang membelah Kota Lewoleba, hanya tiga yang langsung bermuara ke laut, yaitu Kali Waikomo, Kali Wangatoa, dan Kali Kahaona. Sementara 17 aliran lainnya tertahan di belakang kota, sehingga saat hujan deras, air meluap ke permukiman warga.
Ia juga menyoroti aliran Kali Waikerit yang terpecah dan mengarah ke beberapa wilayah permukiman, memperparah dampak banjir di titik-titik tertentu.
Bagi Achan Raring, F-PRB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta memahami langkah mitigasi bencana. Selain itu, masyarakat juga diminta menjaga lingkungan, termasuk tidak melakukan penebangan pohon secara sembarangan yang dapat memperburuk kondisi banjir.

“Kesadaran akan ancaman, pemahaman mitigasi, dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana ke depan,” tegasnya.
Hingga saat ini, warga masih menunggu langkah cepat dari pemerintah daerah untuk penanganan darurat dan solusi jangka panjang guna mencegah banjir serupa terulang kembali.
Bukan hanya di Kelurahan Lewoleba Timur, Banjir juga merendam Rumah di beberapa Kota Lewoleba, seperti kelurahan Lewoleba Barat, Kelurahan Selandoro dan lainya.**(BM)





















