LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com—Di sebuah sudut sederhana di Perempatan Elitan Jaya, tepat di depan Toko Olimpic, Kelurahan Lewoleba, aroma ayam bakar mulai menjadi penanda lahirnya sebuah harapan baru. Bukan sekadar usaha kuliner biasa, lapak Ayam Frozen Bintang Lima Farendra Lembata menjadi bukti bahwa niat untuk berubah mampu mengalahkan kebiasaan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang tanpa arah.

Tiga anak muda, Blasius Enga Putra Keraf (Noker, 20 tahun), Paskalis Ilo Maing (Beckham, 22 tahun), dan Marius Hernes Tito (Jen, 21 tahun), memilih jalan yang berbeda. Di saat sebagian anak muda seusia mereka masih mencari kepastian, ketiganya justru mulai membangun mimpi melalui usaha ayam beku dan ayam bakar.
Usaha yang baru berjalan sekitar satu bulan itu lahir dari sebuah pemikiran yang telah lama mereka simpan. Berangkat dari kondisi ekonomi yang menuntut kreativitas dan pemanfaatan waktu luang secara produktif, mereka memutuskan untuk tidak lagi sekadar menjadi penonton dalam kehidupan sendiri.
Di bawah cahaya lampu sederhana yang menerangi lapak mereka setiap malam, bara api pemanggang ayam seakan menjadi simbol semangat yang terus menyala. Satu per satu pelanggan datang, menikmati sajian ayam bakar yang mereka racik dengan penuh kesungguhan. Respons masyarakat pun cukup menggembirakan.
“Kami memang benar-benar ingin menjadi wirausaha muda. Kami tidak mau hanya dicap sebagai pemuda yang cuma menjadi beban atau berat bumi,“ ujar Noker kepada awak media ini, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, usaha tersebut bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga menjadi langkah awal untuk membuktikan bahwa anak muda mampu menciptakan peluang bagi dirinya sendiri.
Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk promosi dan pemasaran, ketiga pemuda ini terus berupaya memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat Kabupaten Lembata yang lebih luas. Mereka optimistis usaha yang dirintis dari kesederhanaan itu akan terus berkembang.
Meski masih berada pada tahap awal, semangat mereka tidak pernah surut. Setiap pelanggan yang datang membawa harapan baru, dan setiap ayam yang terjual menjadi langkah kecil menuju masa depan yang lebih baik.
Bagi Noker dan kedua rekannya, keberhasilan bukanlah sesuatu yang datang secara instan. Ia tumbuh dari keberanian untuk memulai, dari kemauan untuk berubah, dan dari keyakinan bahwa masa depan dapat dibangun dengan kerja keras.
Kini, di tengah hiruk-pikuk Lewoleba, ketiga pemuda tersebut sedang menulis kisah mereka sendiri. Kisah tentang keberanian melawan rasa nyaman, tentang mimpi yang mulai menemukan bentuknya, dan tentang harapan yang perlahan mengepul bersama asap ayam bakar di malam hari.
“Mari datang dan kunjungi lapak kami,“ ajak Noker dengan penuh optimisme.
Sebab terkadang, perubahan besar memang dimulai dari tempat yang sederhana, dari sebuah lapak kecil, dan dari keberanian anak-anak muda yang memilih bergerak daripada hanya bermimpi.
Usaha ayam bakar ini sebagai langkah awal ketiga anak muda ini bisa menginspirasi pemuda di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk bangkit berwirausaha.**(BM)





















