News  

Kenangan Terakhir Bersama Ina Monika Kire Burin

Catatan Paul Kopong Burin

Monika Kire Burin
banner 120x600
banner 468x60

SWARALOMBLEN.com— Ada perjumpaan yang tidak pernah benar-benar siap kita hadapi. Perjumpaan terakhir dengan seseorang yang kita kasihi selalu menyisakan duka, keheningan, dan kenangan yang akan terus hidup.

Saat Monika Kire Burin, yang akrab disapa Ina Moni, berada dalam kondisi sakratul maut di Rumah Sakit Leona Kupang, saya bersama Mama Ega dan anak Megi datang menjenguknya. Namun, ketika tiba, ia sudah tidak lagi sadar.

banner 325x300

Bersama anak Megi, anak Efrin Ruing, anak Udis—salah satu “anak” yang selama ini dengan setia merawatnya—serta dua perawat laki-laki, kami membantu memindahkan tubuhnya dari tempat tidur Instalasi Gawat Darurat ke ruang ICU.

Pemandangan itu begitu menyayat hati. Saya tidak sanggup melihat penderitaannya yang telah berlangsung begitu lama. Dokter menjelaskan bahwa kondisinya sangat kritis akibat pendarahan di otak. Bahkan, bila seluruh alat bantu dilepas, ia diperkirakan akan segera berpulang.

Yang dapat kami lakukan hanyalah berdoa. Kami berharap Tuhan masih berkenan memberi kesempatan baginya untuk sembuh dan kembali berkumpul bersama anak-anaknya.

Namun, tubuhnya sudah sangat lemah. Napasnya tersengal satu per satu. Sesekali kepalanya bergerak perlahan ke kanan dan ke kiri atau mengangguk pelan.

Saya menggenggam kepalanya sambil berbisik, mencoba memberinya kekuatan. Entah ia mendengar atau tidak, tetapi saya melihat setitik air mata mengalir dari sudut matanya. Mungkin ia masih menunggu orang-orang yang dikasihinya. Sebagai kerabat terdekat di Kupang, saya hanya mampu menemaninya dalam doa.

Tak lama kemudian kami diminta keluar dari ruang ICU karena aturan rumah sakit tidak memperbolehkan keluarga berada terlalu lama di dalam ruangan tersebut.

Di lorong ICU, anak-anak dan keluarga masih setia menunggu. Anak Efrin bersama istrinya, cucu-cucu, anak Udis, dan Rensiana yang baru duduk di bangku kelas satu SMP tetap bertahan dengan harapan akan terjadi mukjizat. Saya memeluk Rensiana yang duduk menyendiri. Ia hanya menggeleng ketika saya mengajaknya bergabung dengan saudara-saudaranya.

Mereka menunggu ibunda yang sangat mereka cintai. Menunggu dengan harapan yang tak putus kepada Tuhan, meski rasa lelah sudah begitu jelas tergambar di wajah mereka. Sejak sehari sebelumnya mereka terus mendampingi Ina Moni menjalani cuci darah terakhir hingga akhirnya kondisinya menurun drastis.

Saya sempat pulang, tetapi tak lama kemudian telepon berdering berkali-kali. Anak-anak memanggil saya kembali ke rumah sakit. Dokter meminta keluarga segera datang.

Saat saya dan anak Megi kembali menginjakkan kaki di Rumah Sakit Leona, Ina Moni telah mengembuskan napas terakhirnya.

Kepergiannya membawa ingatan saya pada perjuangan panjang yang dijalaninya sejak Januari 2026. Selama berbulan-bulan ia dengan tabah menjalani cuci darah. Sebelumnya ia juga beberapa kali keluar-masuk RS SK Lerik.

Sepanjang yang saya lihat, Ina Moni hampir tidak pernah mengeluh. Ia tetap tersenyum. Tawanya tetap hadir di tengah rasa sakit yang terus menggerogoti tubuhnya. Semua penderitaan itu seolah ia simpan sendiri. Anak-anaknya bercerita bahwa ia memang sosok yang tegas, tetapi di balik ketegasannya tersimpan kasih sayang yang begitu besar.

Dalam ibadat sabda di rumah duka di Tarus, saya menyampaikan bahwa Ina Moni sebenarnya tidak jauh dari kita. Ia hanya melangkah lebih dahulu menuju rumah Bapa.

Saya mengenang kasihnya kepada siapa saja. Ia membuka rumah dan hatinya bagi banyak orang. Tidak hanya membesarkan keempat anak kandungnya, tetapi juga merawat sejumlah anak angkat dengan cinta yang tulus.

Bagi saya, Ina Moni mengingatkan pada teladan Bunda Teresa. Ia melakukan hal-hal sederhana, tetapi dengan cinta yang luar biasa besar. Ia mengajarkan bahwa menolong sesama tidak harus menunggu berkecukupan. Ia telah membuktikan itu selama puluhan tahun melalui hidupnya.

Selamat jalan, Ina Monika Kire Burin. Perjuanganmu telah usai. Kini engkau telah sampai di penghujung perjalanan dan kembali ke rumah Bapa.

“Kam mengaj beg, fe lalanem nan tmoenga. Fe mom labi pana mai serum alapes je surga. Je kofa lolo.”

Monika Kire Burin merupakan putri keempat dari lima bersaudara pasangan Yohanes Laba Burin dan Ambrosia Lipat Alior. Saudara-saudaranya adalah Karolus Kia Burin, Martinus Kewasa Burin, Maria Bribin Burin (almarhumah), Monika Kire Burin (almarhumah), dan Germana Nini Bunga Burin.

Ia lahir di Desa Puor pada 13 April 1968. Dalam kehidupannya, ia menikah dengan Gaspar Laga Ruing, seorang guru PNS asal Desa Baopana (Tanah Tereket). Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai empat orang anak, dua cucu, serta membesarkan sejumlah anak angkat yang dianggap sebagai bagian dari keluarga.

Ina Moni wafat di Rumah Sakit Leona Kupang pada Minggu, 26 Juli 2026, akibat gagal ginjal, dalam usia 58 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan semua orang yang pernah merasakan kasihnya.**

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *