LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com—Wacana pelaksanaan Komuni Pertama secara serentak di Kabupaten Lembata pada tahun 2026 mulai menuai beragam tanggapan. Salah satu suara yang mencuat datang dari Komunitas Vendor Musiman Lembata yang menyatakan dukungan terhadap kebijakan tersebut, namun meminta agar dampaknya terhadap pelaku usaha lokal juga menjadi bahan pertimbangan.
Koordinator Komunitas Vendor Musiman Lembata, Dance Keban, kepada media, Minggu (07/06/2026), mengatakan bahwa pihaknya memahami tujuan Dekenat dalam mendorong pelaksanaan Komuni Pertama secara serentak. Menurutnya, kebijakan tersebut bertujuan baik, yakni membantu mengurangi beban ekonomi umat yang selama ini harus menghadiri banyak perayaan komuni di berbagai paroki.
Kendati demikian, Dance menegaskan bahwa para pelaku usaha musiman yang menggantungkan penghasilan dari momentum perayaan komuni juga perlu mendapat perhatian.
“Saya sangat mendukung kebijakan Dekenat yang bertujuan meminimalisir beban ekonomi masyarakat dan umat. Namun, perlu juga dipertimbangkan kondisi kami sebagai pelaku usaha musiman. Kami hidup dari usaha ini,“ ujar Dance.
Ia menjelaskan, apabila seluruh perayaan komuni dilaksanakan secara serentak, maka para vendor musiman akan menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan tenaga kerja hingga berkurangnya peluang usaha yang selama ini menjadi sumber pendapatan mereka.
Senada dengan itu, Korni, yang akrab disapa Predator dan merupakan seniman Pondok Kreatif sekaligus inisiator diskusi antarvendor, mengungkapkan bahwa dirinya bersama sejumlah pelaku usaha sempat menemui Romo Deken untuk menyampaikan aspirasi mereka.
Menurut Korni, pertemuan tersebut berlangsung singkat karena Romo Deken harus segera berangkat ke Larantuka untuk menghadiri agenda lain.
“Kami sempat bertemu dengan Romo Deken dan berdiskusi sekitar sepuluh menit. Dalam pertemuan itu beliau menyampaikan bahwa bukan hanya vendor musiman yang datang untuk menyampaikan pertimbangan terkait wacana ini, tetapi juga banyak pihak lainnya. Setelah itu beliau berpamitan karena harus melanjutkan perjalanan ke Larantuka,“ jelas Korni.
Selain pelaku usaha, sejumlah masyarakat juga mengaku khawatir terhadap dampak ekonomi yang mungkin timbul jika pelaksanaan komuni dilakukan secara serentak.
Salah seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, berinisial MA, menilai bahwa tradisi kekeluargaan yang kuat di Lembata justru dapat menambah beban ekonomi masyarakat.
“Kalau dalam satu keluarga ada sepuluh anak yang menerima Komuni Pertama secara bersamaan, maka dalam satu hari kami harus menghadiri dan mengantar dulang ke banyak tempat sekaligus. Karena semuanya keluarga dekat, tentu ada kewajiban sosial yang harus dipenuhi. Ini bisa menjadi beban tambahan bagi masyarakat,“ tuturnya.
Hingga saat ini, Komunitas Vendor Musiman Lembata mengaku belum memperoleh kepastian resmi dari Dekenat terkait pelaksanaan Komuni Serentak maupun mekanisme yang akan diterapkan apabila kebijakan tersebut benar-benar dijalankan.
Menurut mereka, belum ada pengumuman resmi yang disampaikan melalui paroki-paroki maupun mimbar gereja mengenai pelaksanaan program tersebut.
Atas dasar itu, komunitas vendor memilih menyampaikan sikap penolakan sebagai langkah antisipatif sembari menunggu keputusan resmi dari pihak gereja. Mereka juga menilai bahwa kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi perkembangan industri kreatif dan usaha-usaha lokal yang selama ini tumbuh seiring pelaksanaan perayaan komuni di berbagai paroki.
Komunitas Vendor Musiman Lembata berharap Dekenat dapat melakukan kajian yang lebih mendalam serta mempertimbangkan penjadwalan ulang pelaksanaan Komuni Pertama agar tetap dilaksanakan secara bertahap di masing-masing paroki, sebagaimana yang telah berlangsung pada tahun-tahun sebelumnya.
Bagi mereka, dialog dan musyawarah menjadi jalan terbaik agar tujuan gereja dalam melayani umat tetap berjalan, tanpa mengabaikan dampak sosial dan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat serta pelaku usaha lokal.**(Tim/red)





















