NTTMart Lembata Sepi, Janji Pemberdayaan UMKM Dipertanyakan

Geray NTTMart yang berlokasi di Kelurahan Selandoro, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Foto: Dok SL
banner 120x600
banner 468x60

LEMBATA, SWARALOMBLEN.com—Gerai NTTMart Kabupaten Lembata yang diresmikan pada 5 Februari 2026 sebagai etalase produk unggulan UMKM kini menuai sorotan. Fasilitas yang digadang-gadang menjadi pusat pemasaran produk lokal tersebut justru terlihat sepi aktivitas, memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas kebijakan Pemerintah Kabupaten Lembata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Pantauan di lokasi menunjukkan gerai yang berada di jalur Trans Lembata itu tampak lengang. Rak-rak pajangan memang terisi berbagai produk lokal, namun minim pengunjung dan nyaris tidak terlihat aktivitas transaksi jual beli.

banner 325x300

Kondisi tersebut memunculkan kritik terhadap pemerintah daerah yang selama ini gencar mempromosikan NTTMart sebagai solusi pemasaran bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Publik menilai keberhasilan sebuah pusat pemasaran tidak dapat diukur hanya dari seremoni peresmian, jumlah produk yang dipajang, atau besarnya anggaran yang digunakan, melainkan dari sejauh mana fasilitas tersebut mampu menciptakan transaksi dan meningkatkan pendapatan pelaku usaha.

Data pemerintah sebelumnya menyebutkan di NTTMart Lembata menampung 38 pelaku industri kecil dan menengah dengan 88 jenis produk, mulai dari jagung titi, kopi, madu, makanan ringan, kain tenun ikat, busana lokal hingga berbagai kerajinan tangan khas daerah.

Namun, beberapa bulan setelah diresmikan oleh Gubernur NTT Melki Laka Lena, manfaat ekonomi yang dijanjikan belum terlihat secara nyata. Banyak pihak mempertanyakan sejauh mana produk-produk tersebut berhasil terjual dan berapa nilai transaksi yang telah tercipta sejak gerai mulai beroperasi.

Ketiadaan data resmi mengenai omzet, jumlah transaksi, maupun tingkat penjualan menimbulkan kesan bahwa program ini lebih menonjolkan aspek simbolik dibandingkan hasil yang dapat diukur. Padahal, transparansi data menjadi penting untuk menilai apakah kebijakan yang dijalankan benar-benar berdampak pada kesejahteraan pelaku UMKM.

Pemerintah daerah sebelumnya mengusung konsep One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP) sebagai strategi pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Program tersebut bertujuan mendorong setiap desa, sekolah, dan komunitas menghasilkan produk unggulan yang dapat dipasarkan melalui jaringan NTTMart.

Akan tetapi, konsep yang baik di atas kertas membutuhkan dukungan strategi pemasaran yang kuat, promosi berkelanjutan, manajemen profesional, serta akses pasar yang luas. Tanpa langkah-langkah tersebut, gerai hanya berpotensi menjadi ruang pajangan produk tanpa memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Sejumlah pengamat menilai Pemerintah Kabupaten Lembata perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional NTTMart. Evaluasi itu mencakup efektivitas promosi, pola kemitraan dengan pelaku UMKM, strategi menarik pembeli, hingga transparansi laporan penjualan.

Publik berharap pemerintah tidak berhenti pada pembangunan fisik dan seremoni peresmian semata. Sebab, tujuan utama program ini adalah meningkatkan pendapatan pelaku UMKM dan memperkuat ekonomi lokal.

Jika kondisi sepi pengunjung terus berlangsung tanpa langkah perbaikan yang konkret, maka NTT Mart berisiko menjadi simbol kegagalan kebijakan pemasaran produk daerah. Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat Lembata, pemerintah dituntut membuktikan bahwa program pemberdayaan UMKM bukan sekadar slogan, melainkan benar-benar menghadirkan manfaat yang dirasakan langsung oleh pelaku usaha dan masyarakat.** (BM dan TM)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *