LEMBATA, SWARALOMBLEN.com—Rangkaian Konser Amal Lembata for Flores yang digelar Sabtu (12/9/2026) malam berlangsung meriah. Para musisi, seniman, komunitas, aktivis, jurnalis, hingga masyarakat Lembata bersatu menggalang kepedulian bagi korban gempa Flores.

Konser yang dipusatkan di Taman Saulsa Titen Kota Lewoleba itu menghadirkan Master of Ceremony yang malang buana, Roy didampingi oleh sosok wanita berpenampilan anggun, Noni.
Acara Konser Amal Lembata for Flores menampilkan, musik, monolog dan aksi panggung musisi Lembata. Sejumlah musisi tampil secara solo maupun berkolaborasi dengan band dan penyanyi lainnya.
J-Late Band menjadi salah satu penampil. Joe dan kawan-kawan membawakan lagu “Hari Bersamanya” dari Sheila On 7.
Penampilan J-Late Band tidak berhenti sampai di situ. Band tersebut juga berkolaborasi dengan sejumlah musisi Lembata, antara lain Rina Beding, Yanto Ruing, Ella Riberu, Nona Atawolo dan Vivi.

Dance Keban juga tampil memainkan piano dan mendapat sambutan meriah dari penonton. Penampilan solo turut diberikan oleh Nurfit Corobima dan Vivi.
J-Late Band bersama Rina Beding kemudian membawakan lagu “Just Illusion”, menambah semarak suasana konser.
Dari panggung musik, penonton juga disuguhi penampilan paduan suara Brome Corda San Arsen Choir yang membawakan lagu Nona Pu Belis Mahal Kaka Main Salah dan Jamila Weta.
Suasana solidaritas semakin terasa ketika anggota DPRD Lembata dari Partai Gerindra, Vigis Koban, memberikan dukungan dengan membeli lagu Jamila Weta senilai Rp1 juta.
Acara kemudian dilanjutkan dengan monolog dari OMK Waikomo pimpinan Robin Wuwur dan kawan-kawan.
Lagu Menjadi Pesan Kemanusiaan.
Dody Paty Dias, anggota Polres Lembata, tampil membawakan lagu “Hilang”. Penampilannya tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga membawa pesan kemanusiaan bagi para korban gempa Flores. Lagu tersebut dipadukan dengan pesan tentang kehilangan dan kerinduan terhadap sesuatu yang tidak kunjung datang.
Penampilan musisi lainnya juga mendapat sambutan hangat. John Bala Wawin dengan gaya klasiknya membawakan lagu “Bis Kota” dalam aransemen reggae yang membuat penonton ikut bernyanyi.
Yanto Ruing, musisi asal Lebatukan, tampil dengan lagu “Boli Gana” dalam genre reggae.
Sementara Ella Riberu membawakan lagu “Anggung Masih Cinta”.
Musisi asal Kedang, Abu Ladopurap, tampil dengan lagu ciptaannya sendiri, “Cinta Bukan Main-Main

”. Gaya panggungnya mampu membuat penonton terpukau.
Lagu tersebut kemudian dibeli dengan nilai Rp 1.099.900 ribu oleh Yuni Damayanti, Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Lembata, sebagai bagian dari aksi penggalangan dana.
Dukungan juga datang dari Angkatan Spensa 92 yang menyumbangkan dana sebesar Rp900 ribu.
Penampilan dilanjutkan oleh El Wurin dan Suban Wutun. El Wurin kemudian tampil bersama Konser PMC membawakan lagu ciptaannya, “Soka Seleng”.
Naborasi Music Entertainment turut mengambil bagian dengan membawakan lagu “Topeng” milik Noah, kemudian dilanjutkan dengan lagu bernuansa reggea yang mengajak penonton bernyanyi dan bergoyang bersama.
Nona Atawolo dan Vivi kemudian tampil bersama J-Late Band membawakan lagu “Bencana Bukan Hukuman”.

Lagu tersebut dibeli oleh content creator Habibi. Tidak hanya membeli lagu, Habibi juga membawa semangat berbagi ke atas panggung dengan mendonasikan parfum dari usaha miliknya untuk mendukung aksi kemanusiaan tersebut.
Zigen Kamalera juga tampil membawakan lagu bergenre reggae.
Sementara itu, Hipop Lembata Foundation (HLF), Narlon On The Beat, Capung, Puyol dan Pokar turut mengambil bagian dalam rangkaian konser.
Abu Ladopurap kemudian kembali tampil berkolaborasi dengan El Wurin melalui lagu “Kuda Laka Loli”.
Panitia Pastikan Donasi Transparan:
Ketua Panitia Konser Amal Lembata for Flores, Broin Tolok, dalam laporannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, relawan, musisi dan masyarakat yang telah mendukung kegiatan tersebut.
Ia mengatakan, panitia telah bekerja keras mengumpulkan donasi melalui aksi ngamen sebelum pelaksanaan konser puncak.
Panitia yang terdiri dari musisi, aktivis dan jurnalis tersebut, menurut Broin, menggelar kegiatan dengan dukungan swadaya dan sponsor.
“Kami akan menyampaikan seluruh hasil donasi secara transparan kepada publik untuk dipertanggungjawabkan,” kata Broin.
Ia mengakui dalam pelaksanaan kegiatan terdapat berbagai kendala, terutama keterbatasan waktu dan koordinasi teknis. Namun, semangat gotong royong dan dukungan berbagai pihak membuat seluruh kendala dapat diatasi, kata dia, berbagai keterbatasan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran dalam menjalankan aksi kemanusiaan.
“Aksi kemanusiaan tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Kepedulian yang kecil dapat menjadi kekuatan yang besar,” ujarnya.
Broin juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mengambil bagian dalam konser tersebut, baik mereka yang memberikan donasi dalam jumlah besar maupun mereka yang memberikan sedikit tetapi dengan ketulusan.
Ia turut memberikan penghargaan kepada para inisiator, yakni Yanti Wuwur, Ida Watun, Ama Unarajan serta seluruh relawan yang telah bekerja keras hingga konser dapat terselenggara.
Panitia menegaskan tidak mengambil sepeser pun dari hasil ngamen maupun penjualan tiket. Seluruh dana dari dua sumber tersebut akan disalurkan bagi korban gempa Flores.
Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, turut menghadiri Konser Amal Lembata for Flores. Dalam sambutannya, Bupati Lembata mengatakan: Flores Tidak Sendiri.
Petrus Kanisius Tuaq juga menyebut kehadiran anggota DPRD Kabupaten Lembata, Vigis Koban, yang hadir dan memberikan dukungan dalam kegiatan tersebut.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Lembata, saya menyampaikan terima kasih atas partisipasi masyarakat Kabupaten Lembata pada malam puncak Konser Amal Lembata for Flores,” kata Petrus.
Menurutnya, masyarakat Lembata hadir karena rasa kepedulian terhadap saudara-saudara mereka yang tertimpa bencana gempa.
“Kita hadir karena saudara-saudari kita yang tertimpa bencana gempa,” ujarnya.
Petrus menegaskan, masyarakat Flores yang terdampak bencana tidak sendirian. Solidaritas yang ditunjukkan masyarakat Lembata, menurutnya, merupakan bentuk nyata persaudaraan.
“Mereka tidak sendiri. Flores tidak sendiri,” katanya.
Ia menilai apa yang dilakukan masyarakat melalui konser amal tersebut bukan sesuatu yang sederhana, karena lahir dari ketulusan dan kepedulian.
“Kita boleh berbeda kabupaten, berbeda pendapat, tetapi kita punya rasa persaudaraan. Kesulitan mereka adalah panggilan untuk kita,” ungkapnya.
Bupati juga memberikan apresiasi kepada para seniman dan musisi yang menggunakan musik sebagai bahasa kemanusiaan dan persaudaraan.
“Kepada seluruh seniman dan musisi, terima kasih atas bahasa kemanusiaan dan bahasa persaudaraan,” katanya.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga solidaritas dan kebersamaan.
“Mari kita berdiri bersama dan saling menguatkan. Dari Lembata untuk Flores. Flores tidak berdiri sendiri,” tegas Petrus.
Konser kemudian terus berlanjut dengan berbagai penampilan musisi dan komunitas. Malam itu, panggung tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk menyatukan kepedulian masyarakat Lembata bagi saudara-saudara mereka yang terdampak gempa Flores.**





















