Plan Indonesia dan FJL Gaet Mitra Kerja, Sosialisasi Buku Saku Peliputan Ramah Anak di SMA Negeri 1 Lebatukan 

Bedos Making

Foto: Istimewa
banner 120x600
banner 468x60

LEMBATA, SWARALOMBLEN.com— Sosialisasi Buku Saku Peliputan Ramah Anak digelar di SMA Negeri 1 Lebatukan, Desa Hadakewa, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.30 WITA hingga selesai itu melibatkan Yayasan Plan Indonesia, Youth Advisory Panel (YAP), Pondok Perubahan, dan Forum Jurnalis Lembata.
Sosialisasi diikuti sekitar 30 siswa-siswi kelas X, XI, dan XII SMA Negeri 1 Lebatukan. Kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan prinsip-prinsip peliputan yang ramah anak serta pentingnya melindungi identitas, privasi, dan kepentingan terbaik anak dalam pemberitaan.

banner 325x300

Kegiatan dipandu oleh Katarina Anastasia, guru SMA Negeri 1 Lebatukan, selaku pembawa acara. Agenda diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan sambutan Kepala SMA Negeri 1 Lebatukan yang dalam kesempatan tersebut diwakili Wakil Kepala Sekolah, Ibrahim Pati Moa.
Dalam sambutannya, Ibrahim menyampaikan permohonan maaf karena kepala sekolah tidak dapat hadir secara langsung. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir dan mendukung kegiatan tersebut.

Penyerahan buku saku peliputan ramah anak, oleh pihak Yayasan Plan Indonesia kepada Siswa-siswi SMA Negeri 1 Lebatukan yang diwakili salah satu guru, Katarina Anastasia

“Terima kasih atas kehadirannya. Dengan ini saya membuka kegiatan ini secara resmi,” ujar Ibrahim.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan narasumber dan tim yang terlibat, di antaranya Ahmad Mas (FJL), Bedos Making (FJL), Dina Making (Pondok Perubahan), Asty dari Plan Indonesia, serta Wens dari Youth Advisory Panel (YAP).

Suasana kegiatan kemudian dibuat lebih interaktif melalui free game yang dipandu Dina Making. Setelah itu, Dina juga menjadi pemantik diskusi bagi para siswa.
Para peserta kemudian dibagi ke dalam empat kelompok untuk mendiskusikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan peliputan anak, termasuk bagaimana menjaga identitas anak, dampak pemberitaan terhadap korban, serta cara melakukan wawancara yang tidak menimbulkan trauma.
Melalui diskusi kelompok, para siswa diajak memahami bahwa pemberitaan mengenai anak membutuhkan perhatian khusus. Informasi seperti nama, wajah, alamat, sekolah, maupun keterangan lain yang dapat mengungkap identitas anak harus dipertimbangkan secara serius.
Plan Indonesia Dorong Komitmen Perlindungan Anak
Perwakilan Yayasan Plan Indonesia, Asty, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Ia mengatakan, Plan Indonesia berkomitmen membangun kerja sama dengan Forum Jurnalis Lembata, karena perlindungan anak merupakan hal penting yang harus menjadi perhatian bersama.

Sementara itu, Ahmad Mas, Anggota FJL memberikan tanggapannya, menurut Ahmad sapaannya. Ia Ahmad menjelaskan bahwa seorang jurnalis ketika meliput suatu peristiwa harus bekerja secara akurat dan objektif. Informasi yang disampaikan kepada publik harus berdasarkan fakta, sekaligus tetap memperhatikan hak dan perlindungan terhadap pihak yang menjadi objek pemberitaan.

Dalam momentum peluncuran dan sosialisasi Buku Saku Peliputan Ramah Anak, Ahmad menyampaikan bahwa Forum Jurnalis Lembata telah berkomitmen melindungi korban anak ketika melakukan peliputan kasus yang melibatkan anak.

Menurutnya, komitmen tersebut penting agar tugas jurnalistik tetap berjalan secara profesional tanpa mengorbankan kepentingan dan keselamatan anak.

Ahmad juga menilai komitmen bersama antara FJL dan Yayasan Plan Indonesia merupakan langkah yang baik dalam memperkuat pemahaman tentang perlindungan anak dalam kerja jurnalistik.

Asty juga menyerahkan Buku Saku Peliputan Ramah Anak kepada siswa-siswi SMA Negeri 1 Lebatukan.
“Buku panduan peliputan berbasis anak ini saya serahkan kepada siswa dan siswi SMA Negeri 1 Lebatukan agar dapat berguna dan bermanfaat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, buku panduan tersebut juga dapat diakses secara langsung melalui barcode/QR code yang tersedia pada buku.

Kegiatan sosialisasi tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi para siswa untuk memahami bahwa anak bukan sekadar objek pemberitaan. Dalam proses jurnalistik, anak harus ditempatkan sebagai subjek yang memiliki hak atas keamanan, privasi, martabat, serta perlindungan dari dampak buruk pemberitaan.**

banner 325x300

Writer: BMEditor: Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *