LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com— Dugaan ditemukannya ulat dalam makanan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di TKK Negeri 3 Lamahora, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, menjadi perhatian serius berbagai pihak. Peristiwa ini kini tengah ditelusuri lebih lanjut sambil menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan setempat.
Kepala Sekolah TKK Negeri 3 Lamahora, Rosfina Gunu, menjelaskan bahwa dirinya tidak berada di sekolah saat kejadian berlangsung. Ia sedang berada di kantor dinas ketika makanan dibagikan kepada anak-anak.
“Saya mendapat telepon dari guru yang meminta saya segera ke sekolah karena ditemukan satu ompreng makanan yang berisi ulat. Saat saya tiba, petugas sudah ada di lokasi,” ujar Rosfina saat konferensi Pers bersama awak media, Jumat (17/04/2026).
Menurut keterangan guru kelas, kejadian tersebut terjadi di kelompok kelas A yang berisi anak-anak usia 4–5 tahun. Saat makanan dibagikan, sebagian besar anak telah mengonsumsi makanan mereka. Namun, seorang anak menemukan ulat pada bagian daging ayam.
“Anak-anak mengatakan, ibu, ada ulat. Ulat itu terlihat pada bagian sayap ayam. Karena ukurannya kecil, kami menyuwir daging untuk memastikan, dan itu disaksikan langsung oleh orang tua wali yang hadir,” ungkap pihak sekolah.
Pihak sekolah menegaskan bahwa video yang beredar di media sosial terkait kejadian tersebut adalah benar adanya.
Disisi lain, Ketua Komite TKN 3 Lamahora, Laurens Ola, menekankan pentingnya menyikapi kasus ini secara objektif.
“Kita tidak datang untuk saling menyalahkan, tetapi untuk mencari akar persoalan demi perbaikan ke depan, khususnya untuk anak-anak di Kabupaten Lembata,” kata Lorens yang juga anggota DPRD dari partai PAN ini.
Wakil Bupati Lembata, Muhammad Nasir Laode, turut hadir dan menyaksikan langsung klarifikasi dari pihak sekolah serta pengelola dapur MBG. Ia menyoroti pentingnya pengawasan dalam program tersebut.
“Program MBG ini harus benar-benar memenuhi standar, baik dari sisi gizi, spesifikasi, maupun kebersihan. Kesehatan dan keselamatan siswa adalah hal utama,” terang Nasir Laode yang mendengar langsung dari pihak sekolah dan SPPG 01 Nubatukan.
Sementara itu, pengelola Dapur MBG 01 Wilayah Nubatukan, Theresia Hani Chandra, menyatakan pihaknya telah menjalankan prosedur sesuai standar operasional.
“Kami sangat menyesalkan kejadian ini menjadi viral. Seharusnya pihak dapur dipanggil terlebih dahulu untuk klarifikasi. Dari kami, makanan yang disalurkan tidak mengandung ulat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya kini menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
Kepala Bidang Kesehatan, Rosadalima Tuto, menyampaikan bahwa SPPG 01 Nubatukan telah mengantongi sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) yang masih berlaku.
“Secara prosedur, mereka sudah sesuai SOP. Jika hanya satu ompreng yang ditemukan bermasalah, maka perlu pendalaman lebih lanjut. Apalagi dari distribusi ke sekolah lain tidak ditemukan kasus serupa,” jelasnya.
Pihak SPPG 01 Nubatukan menegaskan bahwa investigasi akan terus dilakukan secara menyeluruh. Hasil uji laboratorium diharapkan dapat memberikan kepastian terkait sumber permasalahan ini.
Hadir dalam Konferensi Pers bersama awak media, Wakil Bupati Lembata, Muhammad Nasir Laode, turun langsung ke lokasi untuk menyaksikan dan mendengar keterangan dari pihak sekolah serta SPPG 01 Nubatukan terkait kejadian tersebut.
Kunjungan Wakil Bupati Nasir Laode turut didampingi Kepala Dinas Pendidikan, Wenseslaus Ose Pukan, Kabid PAUD dan Pendidikan Dasar Yafet, serta Kabid Kesehatan Dinas Kesehatan Lewoleba, Rosadalima Tuto. Hadir pula unsur TNI Koramil Lewoleba yang diwakili ALO Luon selaku Babinsa, serta Ketua Komite yang juga anggota DPRD dari Partai PAN, Lorens Keraf.
Kehadiran para pemangku kepentingan ini bertujuan untuk memastikan penanganan kasus berjalan transparan serta mencari solusi terbaik demi menjamin keamanan dan kesehatan siswa.**(BM)





















