LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com—Festival Lamaholot 2026 yang mengusung tema “Satu Lamaholot dan Dunia“ 1- 4 Juli 2026 merupakan salah satu Festival yang masuk Karisma Event Nusantara (KEN). Festival ini bahkan telah mendapat pengakuan nasional setelah ditetapkan sebagai salah satu dari 125 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Pengakuan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata dan UMKM. Namun, kondisi di lapangan pada hari kedua pelaksanaan festival justru menunjukkan jumlah pengunjung yang relatif minim. Pantauan media ini, Kamis (02/07/2026). Sepinya pengunjung dikeluhkan sejumlah pelaku UMKM yang membuka stan di lokasi kegiatan. Mereka mengaku penjualan belum sesuai harapan.
Kor Sakeng, salah satu pelaku UMKM yang menjual aksesoris berbahan tradisional, mengatakan dirinya menyayangkan minimnya antusiasme masyarakat terhadap festival yang telah memperoleh pengakuan tingkat nasional tersebut.
“Festival sebagus ini sangat disayangkan kalau respons masyarakat masih minim. Kami membawa dagangan ke sini dengan harapan pendapatan meningkat, tetapi sampai hari kedua pengunjung masih sangat sedikit,“ ujarnya.
Menurut Kor Sakeng, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Lembata. Ia menilai promosi dan publikasi festival kepada masyarakat masih perlu ditingkatkan agar lebih banyak warga mengetahui dan menghadiri kegiatan tersebut.
“Hari kedua ini benar-benar jauh dari ekspektasi kami sebagai pelaku UMKM. Mungkin publikasinya perlu lebih digencarkan agar masyarakat datang meramaikan Festival Lamaholot,“ katanya.
Pelaku UMKM asal Batak, Mawek, mengaku menyayangkan rendahnya partisipasi masyarakat terhadap festival yang dinilainya memiliki konsep dan kualitas penyelenggaraan yang baik.
Mawek yang menjual berbagai aksesori berbahan titanium mengaku mengalami kerugian karena telah membawa dagangannya ke lokasi festival dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan selama kegiatan berlangsung. Namun, hingga hari kedua, jumlah pembeli masih jauh dari harapan.
Hal senada juga disampaikan salah seorang pengunjung bernama Abe. Ia menilai suasana festival belum memberikan daya tarik yang kuat bagi masyarakat.
“Terus terang saya belum melihat sesuatu yang benar-benar menarik di sini. Suasananya masih terlihat biasa-biasa saja,“ ujarnya.
Abe juga berpendapat bahwa pengembangan sektor pariwisata memerlukan perhatian dan inovasi yang lebih besar dari pemerintah daerah agar event berskala nasional seperti Festival Lamaholot mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi daerah. Pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadinya.
Dengan status sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara 2026, Festival Lamaholot diharapkan tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya Lamaholot, tetapi juga mampu menarik lebih banyak wisatawan, meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat, serta memperkuat citra Kabupaten Lembata sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Indonesia.
Hingga berita ini diterbitkan, Anton Wutun salah satu pejabat di lingkup Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Lembata mengatakan saya tidak tau kondisi rill di lapangan.**(Tim/red)





















