SWARALOMBLEN.com—Ada orang yang dikenang karena jabatan. Ada yang dikenang karena harta. Namun, ada pula yang akan selalu dikenang karena keberaniannya berdiri di sisi mereka yang tak memiliki suara. Dominikus Bala Karang, yang akrab disapa Domi, adalah salah satunya.
Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, kabar duka itu menyelimuti hati banyak orang. Seorang jurnalis, aktivis lingkungan, pembela masyarakat adat, pelindung kaum migran, dan sahabat bagi orang-orang kecil telah menuntaskan pengabdiannya di dunia. Tuhan memanggilnya pulang.
Domi tidak menjadikan profesi jurnalis sebagai jalan mencari popularitas. Baginya, jurnalisme adalah panggilan nurani. Pena bukan sekadar alat menulis, melainkan senjata untuk melawan ketidakadilan. Kertas bukan sekadar tempat merangkai kata, melainkan ruang untuk menghadirkan harapan bagi mereka yang selama ini terpinggirkan.
Ia menulis dengan keberanian. Ia berbicara melalui fakta. Ia berdiri tegak ketika banyak orang memilih diam. Idealisme yang dipegangnya tidak pernah tunduk pada kekuasaan ataupun materi. Kebenaran adalah kompas yang menuntun setiap langkah dan setiap tulisannya.
Saya mengenal Domi sebagai pribadi yang sederhana, tetapi memiliki keteguhan yang luar biasa. Saat masyarakat adat menghadapi ancaman, saat alam Nusa Tenggara Timur dipertaruhkan, atau ketika kaum marginal membutuhkan suara, Domi selalu hadir. Mungkin bukan dengan teriakan, tetapi melalui tulisan-tulisan yang tajam, jujur, dan penuh keberpihakan.

Seperti ditulis NTT Express, “Bagi Domi, jurnalisme bukan sekadar pekerjaan mencari nafkah. Ia menjadikan pena dan kertas sebagai senjata untuk membela yang lemah dan menjaga agar alam NTT tidak diambil paksa tanpa tanggung jawab“. Kalimat itu bukan sekadar kutipan, melainkan cermin dari seluruh perjalanan hidupnya.
Hari ini, pena itu memang telah berhenti menulis. Namun gagasan, keberanian, dan nilai-nilai yang ia tinggalkan tidak akan pernah berhenti berbicara. Selama masih ada orang yang memperjuangkan keadilan melalui kata-kata, selama masih ada jurnalis yang setia pada nurani, nama Dominikus Bala Karang akan tetap hidup dalam ingatan.
Selamat jalan, Domi. Terima kasih telah mengajarkan bahwa jurnalisme sejati bukan tentang menjadi terkenal, melainkan tentang menjadi berguna bagi sesama.
Engkau telah menyelesaikan tugasmu dengan baik. Kini beristirahatlah dalam damai. Semoga Tuhan menerima segala pengabdianmu, dan semoga semangat perjuanganmu terus hidup di setiap pena yang menolak tunduk pada ketidakadilan.**





















