LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com— Pemerintah Kabupaten Lembata bersama Paroki Santa Maria Banneux Lewoleba terus mendorong penguatan sektor peternakan sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat.
Hal itu ditandai dengan peresmian Rumah Pemotongan Unggas (RPU) di Waikomo, Kelurahan Lewoleba Barat, Kabupaten Lembata, Tenggara Timur, Sabtu (08/08/2026).
Fasilitas tersebut merupakan bagian dari kerja sama pemanfaatan dengan Pemerintah Kabupaten Lembata.
Peresmian RPU tersebut dihadiri Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq bersama sejumlah kepala perangkat daerah lingkup Pemerintah Kabupaten Lembata, beserta pemangku kepentingan. Hadir pula Uskup Larantuka Mgr. Hans Monteiro, Romo Deken Lembata Rd. Blasius Kleden, Romo Paroki Santa Maria Banneux Lewoleba Rd. Blasius Keban, serta Ketua PSE Paroki Santa Maria Banneux Lewoleba, Agus Nuban, yang dipercaya sebagai pengelola/manajer RPU.
Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq dalam sambutannya mengatakan, keberadaan RPU tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem peternakan ayam secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.

Menurut dia, pemerintah daerah tidak hanya berupaya memastikan ketersediaan ayam beku, tetapi juga membangun berbagai elemen pendukung agar peternak lokal dapat berkembang dan mandiri.
“Kalau ayam beku sudah kita launching pada tahun lalu, maka hari ini berkat kerja sama dengan PSE, saya meresmikan RPU di Waikomo, Kelurahan Lewoleba Barat,” ujar Bupati Kanis.
Ia mengatakan, pada tahun ini Pemkab Lembata juga mengupayakan pengadaan mesin melalui kerja sama dengan PT Indo Vis yang berada di Waijarang.
Bupati Kanis menyadari bahwa sebagai daerah kepulauan, Lembata menghadapi tantangan dalam penyediaan pakan ternak secara mandiri.
“Kita di daerah kepulauan ini agak susah untuk mendirikan pakan sendiri. Karena itu elemen-elemen pendukung untuk kemandirian ayam sedang kita usahakan,” katanya.
Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah mengembangkan tanaman jagung sebagai bahan pendukung pakan ternak. Pemkab Lembata bahkan mulai mengembangkan penanaman jagung tanpa harus menunggu musim hujan.
“Jagung sekarang kita tidak menunggu musim hujan. Sekarang kita sudah tanam di Bean Kedang, Kecamatan Buyasuri,” jelasnya.
Bupati Kanis menegaskan, pengembangan peternakan ayam harus dilakukan secara terintegrasi. Mulai dari penyediaan pakan, pembibitan, pemeliharaan, pemotongan hingga pemasaran.
Ia menyebut perputaran ekonomi dari sektor ayam memiliki potensi besar bagi masyarakat.
“Kalau kita bicara soal ayam, uang satu miliar dari jumlah perekor beredar satu miliar. Ini adalah upaya karena sesuai dengan tagline kita: nelayan, tani dan ternak,” ungkapnya.
Bupati Kanis Tuaq juga mengajak para peternak dan pelaku usaha agar tidak takut mengakses pembiayaan perbankan.
“Dari hulu sampai ke hilir. Jangan takut pinjam uang di bank, karena pemerintah daerah ada di belakang. Pemerintah akan terus berupaya menciptakan ekosistem yang memungkinkan masyarakat dapat mengembangkan usaha secara mandiri, jelas Bupati Kanis.
Dalam kesempatan itu, Bupati Kanis juga menyampaikan berbagai upaya pemerintah untuk memperkuat konektivitas transportasi laut. Salah satunya adalah rencana menghadirkan kapal Roro ke Lembata.
“Saya sedang berusaha untuk kapal Roro ke Lembata. Sudah tiga kali pertemuan. Baru-baru ini kami rapat bersama enam kepala daerah lainnya,” katanya.
Mgr. Hans Mointeiro: Pemberdayaan Ekonomi sebagai Ekspresi Iman
Sementara itu, Uskup Larantuka Mgr. Hans Monteiro memberikan apresiasi terhadap kolaborasi antara Gereja dan Pemerintah Kabupaten Lembata dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Ia mengaku setiap kali datang ke Lembata selalu menemukan kejutan baru yang membuatnya enggan segera kembali ke Larantuka.
“Jalan ke Lembata selalu ada kejutan, membuat saya tidak ingin cepat pulang ke Larantuka,” ungkap Mgr. Hans.
Menurutnya, pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan salah satu bentuk nyata dari ekspresi iman.
“Pemberdayaan ekonomi sebagai ekspresi iman. Kita tidak berjalan sendiri, tetapi berjalan bersama Pemkab Lembata demi kemajuan ekonomi umat dan masyarakat Lembata,” katanya.
Mgr. Hans menegaskan, program tersebut tidak boleh bersifat eksklusif hanya untuk kelompok atau lingkungan tertentu. Manfaatnya harus dirasakan oleh masyarakat secara luas.
“Tidak hanya eksklusif, tetapi seluruh masyarakat Lembata,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang dibangun antara Gereja, pemerintah daerah, pelaku usaha, peternak dan lembaga keuangan.
Mgr. Hans mengatakan, kehadiran RPU tersebut sejalan dengan semangat APP 2026 tentang pemberdayaan dan kemandirian umat.
Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Romo Deken Lembata yang telah berinisiatif menggandeng Pemerintah Kabupaten Lembata dalam program tersebut.
“Ini rasa syukur dan tanggung jawab yang besar,” ujarnya.
Mgr. Hans berharap program serupa tidak hanya berhenti di Paroki Santa Maria Banneux Lewoleba, tetapi dapat dikembangkan ke seluruh paroki di wilayah Dekenat Lembata.
Ia juga mengaitkan ketersediaan daging unggas yang sehat dengan kebutuhan masyarakat dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Daging yang sehat, tubuh pasti sehat. Banyak belum tentu sehat,” katanya.
Menurutnya, RPU menjadi salah satu bagian penting untuk memastikan proses pemotongan unggas dilakukan secara lebih baik sehingga menghasilkan daging yang sehat dan layak dikonsumsi masyarakat.
Mgr. Hans berharap semangat kolaborasi tersebut juga dapat ditularkan ke daerah lain.
“Saya berharap apa yang terjadi di Kabupaten Lembata terjadi juga di Flores Timur, makmur, mandiri dan jaya,” ungkapnya.
Ia bahkan mengaku akan membawa gagasan tersebut kepada pemerintah daerah di Flores Timur.
“Kerja dengan kepentingan banyak orang,” katanya.
Mgr. Hans juga menyebut dukungan sektor perbankan sangat penting. Menurutnya, Bank NTT dapat memberikan dukungan melalui fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi para peternak.
“Bergandeng tangan untuk Lembata jaya,” pungkasnya.
Peternak Sambut Positif Kehadiran RPU
Sementara itu, salah seorang peternak, Mama Tasi, yang hadir langsung dalam peresmian RPU Waikomo, mengaku bangga dan puas dengan kehadiran fasilitas tersebut.
Ia mengatakan, kehadiran RPU menjadi pengalaman baru bagi para peternak di wilayah tersebut.
“Hari ini kalau semuanya hadir, pertama kali kita merasakannya,” katanya.
Menurut Mama Tasi, sebelumnya ia tidak membayangkan akan ada fasilitas pemotongan unggas yang dibangun melalui kerja sama antara pihak paroki dan Pemerintah Kabupaten Lembata.
“Pertama kali diberitahu, saya menganggap sepele. Tetapi sekarang saya merasa bangga dan puas,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan RPU tersebut dapat membantu meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat.
“Walaupun kecil, tetapi bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga,” katanya.
Mama Tasi juga berharap para peternak dapat membangun kelompok usaha yang kuat sehingga produksi unggas dari masyarakat Lembata dapat dikelola secara lebih teratur.
Dengan adanya RPU tersebut, para peternak tidak lagi menjual hasil ternaknya secara sembarangan, melainkan dapat masuk dalam sebuah sistem produksi dan pemasaran yang lebih terorganisasi.
Bagi para peternak, kehadiran RPU Waikomo menjadi langkah awal untuk membangun mata rantai peternakan ayam di Lembata, mulai dari produksi, pemotongan hingga pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Kolaborasi antara Pemkab Lembata dan PSE Paroki Santa Maria Banneux Lewoleba diharapkan menjadi model pemberdayaan ekonomi umat yang dapat dikembangkan lebih luas di Kabupaten Lembata, hingga bisa menjangkau ke plosok Desa, saat ini tempat Rumah Potong Unggas milik Pemkab Lembata masih “Kecil“ dan Ketua PSE dan Bupati Lembatapun Optimis.**(BM)





















