LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com— Suasana Duka menyelimuti hati Umat Dekenat Lembata, Keuskupan Larantuka. Pater Niko Strawn, SVD Tutup usia, pada Selasa 4 Agustus 2026 di RS Bukit Lewoleba dalam usia 92 tahun, setelah lebih dari enam dekade mengabdikan hidupnya bagi umat di Dekenat Lembata.
Pater Niko Strawn, SVD lahir di Amerika Serikat, 24 September 1934. Sebagai misionaris Serikat Sabda Allah (SVD), ia tiba di Indonesia pada tahun 1963 dan sejak 1964 mulai berkarya di Tanah Dekenat Lembata, Nusa Tenggara Timur.
Berada di Dekenat Lembata, Paroki Lerek dan Paroki Boto, rumah yang ia cintai.

Selamat jalan, Misinoner, Pater Niko Strawn, SVD.
Selama 62 tahun, Pater Niko—sapaan akrabnya—mengabdikan diri sebagai imam misionaris, terutama bagi umat di Paroki Lerek dan Paroki Boto. Pengabdiannya berakhir di tanah misi yang telah menjadi rumahnya sendiri.
“Pater Niko sungguh setia dan mulia hatinya. Ia menyerahkan jiwa raganya secara total menjadi misionaris untuk berkarya, mengabdi, dan melayani umat di Tanah Misi Dekenat Lembata,” ungkap Mgr. Yohanes Hans Monteiro dalam homili Misa Requiem pemakaman Pater Niko di Gereja Santa Maria Banneux Lewoleba, Kamis, 6 Agustus 2026.
Misa pemakaman tersebut dipimpin langsung oleh Uskup Larantuka dan diikuti puluhan imam konselebran serta ribuan umat dari berbagai paroki di Dekenat Lembata.
Hadir pula Sekretaris Daerah Kabupaten Lembata, Paskalis Ola Tapo Bali, yang mewakili Bupati Lembata, Kanis Tuaq, anggota DPRD Lembata, jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Lembata, serta berbagai unsur masyarakat.
“Niko Konok”, Misionaris yang Menyatu dengan Umat
Di hadapan umat yang memenuhi gereja, Mgr. Hans mengatakan kepergian Pater Niko meninggalkan duka mendalam bagi umat Lembata.
Menurutnya, Pater Niko dikenal sebagai gembala yang sederhana, rendah hati, dan senantiasa menebarkan senyum kepada umat yang dilayaninya.
“Hari ini kita semua hadir mengelilingi peti jenazah Pater Niko yang terkenal disapa ‘Niko Konok’ oleh umat Paroki Lerek dan Paroki Boto. Kita semua sungguh merasa kehilangan seorang misionaris, gembala sederhana dan rendah hati yang senantiasa menebarkan senyum kepada umatnya,” tutur Mgr. Hans.
Pater Niko, kata dia, meninggalkan Amerika Serikat—negeri yang relatif mapan—untuk menjalankan misi pelayanan di Lembata. Lebih dari enam dekade hidupnya diabdikan bagi pewartaan Injil dan pelayanan umat.
Ia bahkan rela berjalan kaki atau menunggang kuda ketika mengunjungi stasi-stasi pelayanan.
“Dia mengorbankan jiwa dan raga memuliakan Tuhan dan melayani umat Allah di Tanah Lepan Batan ini,” katanya.
Bagi Mgr. Hans, kekuatan pelayanan Pater Niko bukan semata-mata pada kata-kata dalam khotbah, melainkan terutama pada keteladanan hidupnya.
Pater Niko hidup sederhana dan tidak mempertontonkan kemewahan. Ia hadir bersama umat dalam keseharian mereka: duduk di kebun kacang, duduk di lantai bambu, berada di dapur, bahkan bercengkerama bersama umat di pantai pasir Waiteba.
Ia juga dikenal dekat dengan tradisi masyarakat setempat, termasuk menikmati tuak kelapa yang diminumnya menggunakan tempurung kelapa atau konok.
Kedekatan tersebut membuat Pater Niko tidak hanya dikenal sebagai seorang imam, tetapi menjadi bagian dari kehidupan umat yang dilayaninya.
Senyum yang Menghapus Kegelisahan Umat
Selama enam dekade, Mgr. Hans mengatakan Pater Niko telah menjadi pelita bagi umat yang hidup dalam berbagai keterbatasan dan kesulitan.
Pelayanan pastoral yang dijalankannya berlangsung dalam situasi yang tidak selalu mudah. Namun, kesederhanaan dan senyum Pater Niko menjadi kekuatan tersendiri bagi umat.
“Ia sungguh melayani umat secara total hingga menghembuskan napas terakhir di Tanah Misi Lembata,” ujar Mgr. Hans.
Uskup Larantuka itu kemudian menyampaikan pesan perpisahan yang mengharukan.
“Kini Pater Niko telah tiada. Ia pergi untuk selama-lamanya. Ia meninggalkan kita semua dengan iringan derai air mata. Namun, ia meninggalkan kasih pelayanan, jasa, dan keteladanan hidup yang tetap terkenang lestari di hati kita,” ungkapnya.
“Selamat jalan Pater Niko ke rumah Bapa di Surga dan mengikuti perjamuan dengan piala abadi, bukan lagi dengan ‘Konok’. Doakan kami yang masih berziarah di bumi ini.”
Uskup Hans: Pater Niko Meminta Berkat
Usai Perayaan Ekaristi, Mgr. Hans kembali menyampaikan sambutan pelepasan jenazah.
Ia mengenang perjumpaan pertamanya dengan Pater Niko, sekitar dua minggu setelah dirinya ditahbiskan menjadi Uskup Larantuka.
Dalam kunjungan perdana ke Dekenat Lembata, Mgr. Hans menyempatkan diri menjenguk Pater Niko yang saat itu sedang terbaring sakit di Rumah Sakit Bukit Lewoleba.
“Pater Niko tidak bisa bangun. Ia hanya terbaring di tempat tidur. Namun kami bisa berkomunikasi dengan baik. Kami berdua malah berkomunikasi dengan bahasa Inggris dalam pertemuan singkat itu. Kemudian ia meminta saya memberikan berkat kepadanya,” kenang Mgr. Hans.
Dalam kunjungan kerja perdananya ke Paroki Lerek, Mgr. Hans juga menemukan jejak panjang pelayanan Pater Niko yang masih hidup dalam ingatan umat.
Menurutnya, pengabdian Pater Niko telah berakhir di tanah yang dicintainya.
“Tidak ada lagi misionaris putih atau misionaris Barat yang berkarya misi di Tanah Lembata. Kini tinggal misionaris lokal yang melanjutkan karya pelayanan pastoral,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Provinsial SVD Ende yang telah mengutus Pater Niko untuk melayani umat Lembata.
Pemkab Lembata: Pater Niko Menjadikan Lembata Rumahnya
Sekda Lembata, Paskalis Ola Tapo Bali, dalam sambutannya mewakili Bupati Lembata, Kanis Tuaq, menyampaikan duka mendalam atas kepergian Pater Niko.
Menurut Tapo Bali, Pater Niko bukan hanya mengabdi kepada Gereja, tetapi juga melayani seluruh umat di Dekenat Lembata.

“Sebagai seorang gembala, bukan saja mengabdi dan melayani Gereja, tetapi juga melayani seluruh umat di Dekenat Lembata. Ia menjadi misionaris dan menjadikan Lembata sebagai rumahnya sendiri,” katanya.
Pater Niko, lanjutnya, merupakan sosok sederhana sekaligus teladan dalam pelayanan.
Dukungan komunitas gerejani dan umat, ditambah kematangan emosional yang dimilikinya, membuat Pater Niko mampu menghadapi berbagai tantangan dalam karya pastoral.
“Ia bukan saja membangun iman umat, tetapi juga membangun karakter dan mental umat secara baik, penuh kasih dan kesetiaan,” ujar Sekda Paskalis Ola Tapo Bali.
Menurutnya, meski secara fisik Pater Niko telah pergi, warisan iman, spiritualitas, moral, serta kisah kasihnya akan tetap hidup di tengah umat Lembata.
Provinsial SVD Ende, Pater Yosef Emanuel Embu, SVD, mengatakan Pater Niko telah diserahkan Serikat Sabda Allah (SVD) untuk menjalankan misi pelayanan di Lembata.

Ia menyebut Pater Niko sebagai salah satu misionaris terakhir setelah Pater Eugene Smith dan Pater Arnodus Dupont.
Pater Eman mengenang perjumpaannya dengan Pater Niko ketika menjalani perawatan di Rumah Sakit Sint Carolus Kupang.
Saat itu, Pater Eman menyampaikan bahwa Provinsial SVD Ende telah menyiapkan rumah peristirahatan bagi imam yang memasuki masa purna tugas di Ritapiret.
Namun, Pater Niko tidak memberikan jawaban.
“Ia hanya terdiam. Sepertinya ia tetap bersikukuh untuk menjadikan Lembata sebagai rumahnya,” tutur Pater Eman.
Menurutnya, Pater Niko sangat mencintai umat Lembata dan telah menyatu dengan kehidupan mereka.
Ia hidup sederhana bersama umat, menikmati makanan apa adanya seperti ubi, kacang, pisang, dan jagung. Di balik kesederhanaan itu, Pater Niko dikenal sebagai seorang pendoa yang tekun dan senantiasa beradorasi sebelum merayakan Ekaristi.
“Pater Niko milik Gereja lokal, milik Keuskupan Larantuka dan Dekenat Lembata. Di Tanah Misi inilah rumah abadi Pater Niko,” tegas Pater Eman.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Lembata, para imam, frater, suster, bruder, dan seluruh umat yang telah mendukung karya misi Pater Niko Strawn, SVD dalam mewartakan Sabda Tuhan.
Ribuan Umat Antar Pater Niko ke Peristirahatan Terakhir
Usai Perayaan Ekaristi, dilakukan penutupan peti jenazah Pater Niko Strawn, SVD.
Prosesi penutupan peti diawali oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, kemudian dilanjutkan Sekda Lembata, Paskalis Ola Tapo Bali, dan Ketua DPP Paroki Santa Maria Banneux Lewoleba, Fransiskus Limawai Koban.
Setelah itu, ribuan umat mengantar jenazah Pater Niko Strawn, SVD menuju tempat peristirahatan terakhir di Tempat Pemakaman Rumah Sakit Damian Lewoleba.
Di tanah yang selama lebih dari enam dekade menjadi ladang pelayanannya, Pater Niko akhirnya beristirahat.
Ia datang sebagai misionaris dari negeri yang jauh, tetapi pergi sebagai bagian dari keluarga besar umat Dekenat Lembata.
Selamat jalan, Pater Niko. Tanah Misi Lembata telah menjadi rumahmu.**( KB/BM)





















