Misa 40 Hari Mengenang RD. Marianus Wuwur: Dalam Diam Memeluk dan “Membunuh” Perasaan

banner 120x600
banner 468x60

LEMBATA, SWARALOMBLEN.com–Suasana haru menyelimuti perayaan Misa 40 hari mengenang berpulangnya RD. Marianus Hali Wuwur. Dalam homili yang disampaikan oleh, RD. Goris Weking, kenangan tentang sosok imam muda itu kembali dihidupkan melalui kisah persahabatan, pelayanan, serta warisan spiritual yang ia tinggalkan, Kamis (05/03/2026) di bilangan Kota Baru Selatan, Rumah Bapak Marsel Koban (Kote Bala).

Homili itu diawali dengan kutipan puisi karya Chairil Anwar:

banner 325x300

“Tuhanku…

Di pintu-Mu aku mengetuk

Aku tidak bisa lagi berpaling.”

Kutipan tersebut menjadi gambaran perjalanan iman almarhum Romo Marianus Wuwur—atau yang akrab disapa Romo Marno—yang sepanjang hidupnya selalu mengetuk pintu Tuhan, bahkan di tengah kesunyian dan penderitaan.

Tuhan Bukan Orang Asing

Dalam homilinya, RD. Goris Weking mengangkat pertanyaan reflektif yang menjadi motto imamat Romo Marno: “Tuhan, apakah Engkau orang asing?”

Pertanyaan itu diambil dari kisah Injil tentang perjalanan murid-murid menuju Emaus. Setelah kematian Yesus, para murid berjalan dalam kesedihan dan kehilangan harapan. Di tengah perjalanan itu Yesus hadir dan berjalan bersama mereka, namun mereka tidak mengenal-Nya.

Menurut RD. Goris, kisah itu menggambarkan pengalaman iman manusia.

“Allah sering kali hadir begitu dekat dalam hidup kita, tetapi karena rasa kecewa, takut, dan luka, kita tidak mampu mengenali-Nya,” ungkapnya.

Bagi Romo Marno, pertanyaan “Tuhan, apakah Engkau orang asing?” bukan sekadar kalimat, melainkan visi pelayanannya sebagai seorang imam. Ia ingin menjadi imam yang tidak berjarak dengan umat, hadir sebagai sahabat bagi mereka yang merasa tersisih, yang membutuhkan pendengaran dan perhatian.

RD. Marianus Hali Wuwur, Imam yang Hidup dalam “Kesunyian“

RD. Goris juga mengenang masa persahabatan mereka sejak kelas persiapan di Seminari San Dominggo Hokeng. Menurutnya, Romo Marno adalah pribadi yang pendiam, tetapi kehadirannya selalu membawa kedamaian.

“Di antara kami sering terjadi salah paham, tetapi kehadirannya selalu membawa berkat,” kenangnya.

Salah seorang rekan imam bahkan pernah menggambarkan Romo Marno seperti Bunda Maria yang “menyimpan segala perkara dalam hati.” Dalam “kesunyian“ itu, ia memikul kerinduan besar untuk melayani umat Tuhan.

Ketika sakit mulai melemahkan tubuhnya, semangat imamatnya tidak pernah padam. Bahkan di detik-detik terakhir hidupnya, ia masih merayakan Ekaristi—sebuah kesaksian bahwa pusat hidup imamatnya adalah perjumpaan dengan “Kristus“ dalam Ekaristi.

Penyair yang Menulis Doa

Selain dikenal sebagai imam, Romo Marno juga dikenal sebagai seorang penulis puisi. Bait-bait yang ditulisnya lahir dari keheningan batin dan pergulatan imannya.

“Setiap kata seolah menjadi doa, setiap bait menjadi persembahan,” kata RD. Goris.

Salah satu puisinya yang dibacakan dalam misa mengenang dirinya berbunyi:

Jalan ini sunyi Tuhan,

Angin berbisik di antara langkah yang ragu.

Kadang aku bertanya, apakah Engkau orang asing…

Namun di jalan yang sunyi ini,

Engkau datang bukan dengan gemuruh,

Melainkan dalam diam yang penuh makna.

Puisi itu menjadi gambaran perjalanan rohaninya—sunyi, sederhana, namun penuh kedalaman iman.

Warisan Iman

Dalam refleksinya, RD. Goris juga mengaitkan kisah hidup Romo Marno dengan cerita Yusuf dalam Kitab Kejadian yang dikhianati saudara-saudaranya. Menurutnya, kehidupan manusia sering diwarnai luka, konflik, dan kekecewaan.

Namun di balik semuanya, Tuhan tetap bekerja.

Karena itu, ia mengajak umat untuk meneladani semangat hidup almarhum: saling memahami, saling mengampuni, dan meninggalkan egoisme.

“Jika kita tidak berani meninggalkan ego kita, maka kita menempatkan Tuhan sebagai orang asing dalam hidup kita sendiri,” tegasnya.

Di akhir homili, ia menyampaikan pesan penuh haru kepada sahabatnya itu.

“Marno, selamat memasuki rumah keabadian. Doakanlah kami agar semakin dekat kepada Tuhan. Engkau telah menemukan Dia bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai sahabat sejati.”

RD. Goris Weking adalah Pastor yang bertugas di Paroki St. Maria Banneux Lewoeleba

Misa 40 hari ini tidak hanya menjadi momen mengenang seorang imam muda, tetapi juga menjadi pengingat bahwa dalam kesunyian hidup, Tuhan selalu berjalan bersama manusia—meski sering kali tidak kita sadari.**(BM)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *