Kamis, 12 Maret 2026 menjadi hari yang menyisakan hening di ruang-ruang redaksi. Seorang penjaga kata, seorang saksi perjalanan zaman, telah berpulang. Kornelius Kewa Ama, jurnalis setia dari Kompas, menutup lembar terakhir pengabdiannya di dunia yang selama ini ia hidupi dengan tinta, keberanian, dan ketekunan.
Ia bukan sekadar penulis berita. Ia adalah penutur zaman. Dari tangan dan pikirannya, kisah-kisah tentang manusia, tentang tanah kelahiran, tentang harapan dan luka masyarakat, menjelma menjadi kalimat-kalimat yang hidup. Setiap tulisan adalah jejak langkahnya menyusuri kenyataan—tenang, jujur, dan penuh tanggung jawab.
Bagi banyak orang, namanya mungkin hanya tercetak di bawah judul berita. Namun bagi mereka yang mengenalnya, ia adalah sosok sederhana yang memelihara api idealisme jurnalisme: bahwa kebenaran harus dicari, suara kecil harus didengar, dan cerita manusia harus dituliskan.
Kini langkahnya telah berhenti, tetapi gema pengabdiannya tidak akan ikut pergi. Tulisan-tulisannya tetap tinggal, seperti jejak kaki di pasir waktu, mengingatkan bahwa pernah ada seorang jurnalis yang berjalan dengan hati, menulis dengan nurani.
Kepergian Kornelius Kewa Ama bukan sekadar kehilangan bagi keluarga dan sahabat, tetapi juga bagi dunia pers Indonesia, khususnya keluarga besar Kompas.
Selamat jalan, penjaga kata. Di antara halaman-halaman berita yang pernah kau tulis, namamu akan selalu hidup—seperti cahaya kecil yang terus menyala di lorong panjang jurnalisme. Karyamu akan terus dikenang dan cerita tentangmu tak akan pernah usai. Reast in Peace Kornelius. ** (BM)





















