Kota Lewoleba Diguyur Hujan, Warga Diguyur Kekecewaan

banner 120x600
banner 468x60

LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com— Hujan yang turun di Kota Lewoleba seharusnya menjadi berkah bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Setiap kali langit menumpahkan airnya, wajah ibu kota Kabupaten Lembata ini seakan memperlihatkan kenyataan yang selama ini coba ditutupi.

banner 325x300

Pantauan media Rabu, (18/03/2026) tak adanya drainase, serta bahu jalan yang dipenuhi rumput liar, sampah berserakan, serta genangan air yang mengubah ruas jalan menjadi kolam dadakan, warga yang melintaspun sangat kecewa dengan genangan kolam dibeberapa ruas jalan utama ini.

Pemandangan ini bukan cerita baru. Warga sudah terlalu akrab dengan jalan yang tergenang, selokan yang tersumbat, dan kawasan kota yang tampak tak tertata ketika hujan datang. Seolah-olah, setiap musim hujan adalah agenda tahunan untuk membuktikan bahwa penataan kota masih sebatas wacana.

Di beberapa titik, air tampak menggenang cukup lama di badan jalan. Kondisi ini bukan hanya mengganggu kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga memberi kesan bahwa pusat kota dibiarkan berjalan tanpa pengelolaan yang serius. Rumput liar di tepi jalan tumbuh subur, sementara saluran air justru terlihat seperti kehilangan fungsi utamanya. Alam bekerja sebagaimana mestinya, tetapi infrastruktur publik tampaknya belum diajak bekerja sama.

Yang paling menyentil tentu pertanyaan sederhana dari masyarakat: ke mana arah perhatian pemerintah daerah saat ini? Sebab jika wajah kota saja masih tampak kusut setiap kali hujan turun, publik tentu berhak bertanya sejauh mana keseriusan Pemerintahan Kanis dan Nasir dalam membenahi hal-hal mendasar, ujar Anton salah satu warga Kota Lewoleba.

Menurut Anton, Kota bukan hanya soal papan nama pembangunan, seremoni, atau pidato manis di ruang formal. Kota dinilai dari hal paling nyata: apakah jalannya nyaman dilalui, apakah air mengalir pada tempatnya, dan apakah lingkungan terlihat dirawat.

Lewoleba hari ini seperti memberi HaraPAN kepada Bupati Kanis dan Wakil Nasir Laode yang sering berbicara besar padahal urusan kecil ini tak bisa mereka atasi, ujar Anton.

Hujan singkat saja sudah cukup untuk membuka kelemahan tata kelola. Bahwa genangan air lebih jujur daripada laporan yang rapi di atas meja. Bahwa rumput liar dan sampah di sudut kota kadang lebih fasih berbicara daripada baliho-baliho keberhasilan.

Masyarakat tentu tidak menuntut hal yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin kota ini terlihat diurus. Saluran drainase dibersihkan secara rutin, rumput dipangkas, sampah ditangani dengan serius, dan titik-titik rawan genangan diperbaiki sebelum menjadi langganan masalah. Hal-hal kecil seperti inilah yang sesungguhnya menunjukkan keberpihakan pemerintah.**(BM)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *