LEWOLEBA, SWARALOMBLEN.com— Tumpukan dan sebaran sampah yang terlihat di sejumlah titik di Kota Lewoleba setelah hujan berintensitas tinggi kembali menjadi sorotan. Kondisi ini dinilai bukan semata-mata akibat cuaca ekstrem, tetapi juga dipengaruhi oleh rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan sarana pengelolaan sampah, pola konsumsi yang menghasilkan limbah sekali pakai, serta belum optimalnya penerapan sistem pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.
Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (F.PRB) Lembata, Mikhael Alexander Raring, kepada media ini, Rabu, (18/03/2026) mengatakan persoalan sampah yang berserakan di jalanan, got, drainase, dan kali saat hujan deras harus dipandang sebagai masalah lingkungan sekaligus risiko bencana yang serius.
“Fenomena sampah yang meluber ke jalan dan menyumbat saluran air saat hujan deras bukan persoalan baru. Ini terjadi karena masih banyak sampah dibuang sembarangan, termasuk ke laut, hutan, got, drainase, dan kali.
Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, aliran air tersumbat lalu menyebabkan banjir dan sampah menyebar ke mana-mana,” ujar Achan Raring Panggilan lazimnya.
Menurut dia, salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah masih rendahnya disiplin masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya. Kebiasaan membuang sampah sembarangan dinilai memperparah kondisi lingkungan perkotaan, terutama saat curah hujan meningkat.
Selain itu, keterbatasan sarana dan prasarana juga menjadi persoalan penting. Armada pengangkut sampah di daerah ini dinilai masih sangat terbatas, sementara sebagian kendaraan yang ada sudah tua atau mengalami kerusakan. Di sisi lain, fasilitas tempat sampah terstandar di ruang publik juga dinilai belum memadai.
“Persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari keterbatasan armada pengangkut dan minimnya fasilitas pendukung seperti kontainer atau tempat sampah yang layak di titik-titik publik. Akibatnya, penanganan sampah belum maksimal,” katanya.
Achan juga menyoroti pola konsumsi masyarakat yang semakin banyak menghasilkan limbah, terutama sampah plastik sekali pakai. Menurutnya, gaya hidup konsumtif tanpa diimbangi kesadaran pengurangan sampah turut mendorong meningkatnya volume sampah harian di Kota Lewoleba.
Di sisi lain, penerapan sistem 3R atau Reduce, Reuse, Recycle dinilai belum berjalan optimal, khususnya di tingkat rumah tangga. Akibatnya, sebagian besar sampah langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pemilahan dan pengurangan sejak dari sumber.
“Mestinya ada edukasi yang rutin kepada masyarakat dan upaya menciptakan model pengelolaan sampah yang menjadi standar wajib mulai dari rumah tangga. Kalau tidak dimulai dari sumber, maka beban sampah di tingkat kota akan terus meningkat,” tegas Achan Ketua F.PRB ini.
Lebih lanjut, Achan menambahkan, krisis pengelolaan sampah yang tidak tertangani dengan baik juga memicu munculnya tempat pembuangan sampah liar di sejumlah titik di Kota Lewoleba. Keberadaan TPS liar itu, kata dia, berdampak buruk terhadap kualitas tanah, kualitas air, dan kualitas udara di sekitar lingkungan warga.
Karena itu, F.PRB Lembata mendorong adanya langkah bersama antara pemerintah daerah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menangani persoalan sampah secara menyeluruh. Penanganan tidak cukup hanya mengandalkan pengangkutan, tetapi juga harus diperkuat melalui edukasi, penyediaan sarana, penegakan aturan, dan inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Kebersihan kota dan pengurangan risiko bencana harus berjalan seiring. Ia menilai, persoalan sampah yang dibiarkan menumpuk dan menyumbat saluran air pada akhirnya akan memperbesar ancaman banjir, pencemaran lingkungan, hingga gangguan kesehatan masyarakat, imabunya lagi.
“Lewoleba membutuhkan kesadaran kolektif. Sampah bukan hanya urusan pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Kalau kita ingin kota ini bersih, sehat, dan aman dari risiko bencana, maka pengelolaan sampah harus dimulai dari sekarang dan dimulai dari rumah,” pungkas Mikahel Alexander Raring (Achan Raring).**(BM)





















