Opini  

Udak Melomata: Menanti Hotmix yang Menjemput Harapan

Oleh: Kevin Ujan

banner 120x600
banner 468x60

Di Melomata, rindu ternyata bukan hanya tentang seseorang yang lama tak pulang.

Ia juga bisa menjelma menjadi debu yang saban hari menempel di wajah, menjadi lumpur yang menahan langkah, menjadi jalan panjang yang seolah tak kunjung membawa harapan sampai ke halaman rumah sendiri.

banner 325x300

Bagi masyarakat Udak Melomata, jalan bukan sekadar bentangan tanah yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain. Jalan adalah nadi kehidupan. Jalan adalah doa yang dipijak setiap hari. Jalan adalah harapan yang lama terpendam, lalu tumbuh diam-diam di dada orang-orang kampung yang terlalu akrab dengan susah.

Sudah terlalu lama warga hidup berdampingan dengan jalan yang jika kemarau berdebu, jika hujan berubah jadi kubangan. Anak-anak pergi dengan sepatu yang kadang tak pernah benar-benar bersih. Para orang tua membawa hasil kebun dengan sabar yang dipaksa kuat. Kendaraan datang dan pergi dengan tubuh yang terguncang, seolah setiap meter adalah ujian. Namun di balik semua itu, masyarakat Melomata tidak berhenti berharap.

Mereka menunggu hotmix seperti menunggu musim baik setelah tahun-tahun yang melelahkan.

Kerinduan itu bukan kerinduan yang ribut. Ia tidak selalu diteriakkan. Ia hidup di obrolan para bapak di tepi jalan, di keluhan lembut para ibu saat melihat anak-anak berangkat sekolah, di tatapan para pemuda yang ingin desanya melangkah lebih maju. Kerinduan itu tinggal dalam diam, tetapi tak pernah padam.

Dan ketika alat-alat berat mulai datang, ketika tanah mulai dibuka, ketika suara mesin memecah sunyi perbukitan, rasa itu seperti pecah menjadi haru. Ada getaran yang sulit dijelaskan. Seolah-olah kampung yang lama bersabar itu sedang menyaksikan babak baru dari hidupnya sendiri. Seolah-olah Melomata sedang membuka pintu masa depan dengan tangan yang gemetar namun penuh syukur.

Masyarakat desa Melomata seperti baru merdeka di tanah sendiri.

Kalimat itu tidak berlebihan. Sebab kemerdekaan kadang hadir bukan hanya lewat bendera dan upacara, melainkan lewat akses yang layak, lewat jalan yang manusiawi, lewat hadirnya perhatian yang selama ini terasa jauh. Hotmix bagi warga Melomata bukan semata lapisan aspal hitam. Ia adalah bentuk pengakuan bahwa mereka ada, bahwa mereka penting, bahwa desa mereka pun berhak tumbuh bersama zaman.

Jalan hotmix adalah wajah baru harapan.

Ia akan membawa hasil panen lebih cepat ke pasar.

Ia akan mempersingkat lelah menuju sekolah dan puskesmas.

Ia akan membuka jalan bagi tamu, rezeki, pendidikan, dan masa depan yang lebih terang.

Di atasnya nanti akan melintas mimpi-mimpi yang dulu terlalu sering tertahan oleh lumpur.

Tetapi lebih dari itu, hotmix adalah jawaban atas kerinduan panjang masyarakat Udak Melomata. Kerinduan untuk merasa dekat dengan kemajuan. Kerinduan untuk tidak lagi dianggap pinggiran. Kerinduan untuk berdiri tegak dan berkata bahwa desa mereka juga pantas diperhitungkan.

Di tanah yang pernah membuat banyak kaki tertahan, kini harapan mulai menapak lebih mantap.

Di jalan yang dulu penuh keluh, perlahan akan tumbuh syukur.

Dan di hati masyarakat Melomata, hotmix bukan sekadar pembangunan—ia adalah tanda bahwa penantian yang panjang tidak sia-sia.

Semoga jalan ini kelak bukan hanya menghubungkan tempat, tetapi juga menghubungkan cita-cita dengan kenyataan. Semoga ia menjadi saksi bahwa dari desa yang sederhana, kebahagiaan bisa tumbuh begitu besar hanya karena satu hal yang sering dianggap biasa: jalan yang baik.

Sebab bagi Udak Melomata, jalan hotmix bukan cuma infrastruktur.

Ia adalah rindu yang akhirnya pulang.

 

Kevin Ujan adalah anak dari Jeremy Imanuel Ujan anak kampung desa (Udak Melomata) mendefinisikan Jalan Raya berkualitas yang telah lama dinantikan, akhirnya tiba sekarang.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *